Pages

Thursday, September 2, 2010

Revolusi Hijab


12072010
Bus kota yang mengangkut kami dari kota Padang tadi berlalu meninggalkan kami di depan sebuah rumah yang terlihat sederhana namun asri. Aku tergopoh-gopoh membawa barang-barangku yang cukup banyak ke dalam rumah. Disana, kami disambut oleh keluarga penghuni rumah tersebut dengan ramah sekali. Namun, mungkin karena di antara kami berempat juga baru kenal, suasana memang sangat canggung.
Tak lama, mengingat senja semakin berlalu, dan kami belum shalat maghrib, kami pun meminta izin untuk shalat. Uni si pemilik rumah kemudian menunjukkan sebuah kamar tempat aku dan teman sekelompokku yang perempuan akan tempati.
Memasuki kamar, hmm...penerangan yang sangat tidak baik untuk kesehatan mata. Lantai beralaskan tikar plastik yang disambung-sambung. Dinding yang belum di cat.
Aku baru menyadari. Kami -anak KKN di jorongku ini- akan tinggal 1 rumah. Belum lagi laki-laki dewasa yang ada di rumah itu, ada 2 orang. Jilbab, sudah jelas.. tapi memakai kaus kaki sepanjang hari...?? belum kubayangkan sebelumnya.
Dimulailah saat selesai shalat maghrib hari itu.

*
*
Hari kedua KKN saja aku sudah dibuat kaget oleh banyak hal. Pagi itu teman-teman yang cowok mengajak jalan keliling jorong. Namun temanku yang cewek itu tidak memakai jilbab keluar rumah. Ia cuma memakai baju tidurnya. Ini fenomena baru bagiku...; ada anak kuliahan yang tidak memakai jilbab keluar rumah. Oke, aku sering mendengar beberapa orang yang tidak memakai jilbab jika berada dilingkungan rumahnya. Namun kalau disana, kan akan bertemu teman-teman kuliah yang lain, sama aja seperti di kampus. Jadi apa gunanya ia memakai jilbab ke kampus?

Kami berjalan kaki, menyapa setiap orang yang dijumpai. Kami sampai di jorong tetangga. Mampir ke rumah tempat anak KKN jorong tersebut tinggal. Keluarlah salah seorang anak KKN nya yang cewek. JUGA tidak memakai jilbab. Ckckckck...semakin heran aku...

Jujur, setidaknya, aku telah sedikit mewaspadai hal ini. Aku membawa banyak sekali kaus kaki.
dan ternyata, lantai dapurnya termasuk bukan tipe 'lantai kering', jadi agak lembap-lembap gitu.. Namun untungnya, aku juga membawa sandal kain yang buat di rumah. Jadi setiap ke dapur, aku memakainya.
Tapi, yang tetap sulit adalah membuka dan memakai kaus kaki setiap akan masuk dan keluar kamar mandi. Belum lagi jika sedang ada laki-laki di dapur, atau sedang menunggu antrian ke kamar mandi di depan pintu. Ditambah lagi, sebagian mereka tidak mengerti. Sering, setiap aku akan keluar kamar mandi,aku buka pintu sedikit untuk melihat keadaan di luar. Karena aku memakai kaus kakinya di luar kamar mandi, soalnya kalau di dalam kamar mandi jadi basah dong kaus kakinya... Lalu saat aku lihat keluar, ternyata ada laki-laki lagi nunggu di dekat sana, melihat aku membuka pintu. Kemudian aku masuk lagi dan tutup lagi pintunya, berharap dia mengerti dan agak menjauh dari sana. Tapi sewaktu aku buka pintu lagi, ternyata dia masih berdiri disana dan masih melihat ke kamar mandi....aduuhh..... Ini adalah salah satu hal yang membuatku ingin cepat-cepat menyelesaikan KKN.



Banyak juga pertanyaan yang hinggap. Suatu hari seorang adik berumur 5 tahun bertanya,
"Kakak kok pakai kaus kaki terus? dingin ya?"
aku jawab, "iya..."
dia bilang, "buka lah kaus kakinya Kak..." (sambil mengarahkan tangannya ke kakiku, ingin membuka kaus kakiku)
aku menghindar, "eh...jangan...Kakak suka pakai kaus kaki..."

Belum lagi dalam keseharian yang lain. Abang yang tinggal di rumah itu pernah bilang padaku, entah dia bercanda entah serius..
"Nissa bapaham-paham bana gaya Nissa beko awak karajoan Nissa ko. Anak KKN dulu ado nan bantuak Nissa pulo, bajilbab taruih. Awak suruak an jilbabnyo, manangih-nangihnyo."
Indonesian version: “Nissa kalau serius-serius kali nanti saya kerjain. Anak KKN yang dulu juga ada yang seperti Nissa, pakai jilbab terus. Saya sembunyikan jilbabnya, trus dia nangis-nangis”

Aku cuma ngucap mendengar itu..dan timbul ketakutan yang lumayan besar dalam hatiku. Mungkin Abang itu berbicara demikian karena aku tidak mau duduk-duduk di ruang tamu sama yang lain. Pemuda-pemuda jorong lumayan sering main ke rumah itu. Aku tidak mau ikut duduk disana buat ngobrol-ngobrol. Sedangkan temanku yang perempuan mau. Jadi kesannya aku tidak mau sosialisasi. Sejak itu aku agak mencairkan diri. Tetap memakai prinsip, “berbaur tapi tidak melebur”. Aku lebih memilih ini, sebelum ancaman tadi benar-benar diwujudkan.

Namun lama-kelamaan nada pertanyaan-pertanyaan mulai berubah. Seiring dengan ke-konsisten-an yang aku perlihatkan. Suatu hari Nenek di rumah itu pernah bertanya,

“Nissa pesantren dima dulu?”

Aku jawab, “ndak pesantren do Nek..”

Nenek: “apo dulu? MAN? Tsanawiyah?”

Aku jawab: “ndak pernah masuak sekolah agama do Nek..”

Tiba-tiba Uninya datang. “Nissa urang Padang Panjang Mak..urang sinan agamonyo kuek..”

Aku mesem-mesem aja..

Atau sewaktu mandi di sungai. Kami –aku, teman KKN ku yang cewek, beserta adek-adek cewek yang ada disana- pergi ke tempat yang sepi. Hanya sesekali ada orang yang lewat untuk menyeberangi sungai. Aku ikut mandi di sungai, namun tetap memakai jilbab dan memakai rok. Susah..sekali melawan arus karena memakai rok begitu. Namun ya bagaimana lagi..berenang adalah hobiku..makanya aku juga bercita-cita jadi orang kaya agar bisa bikin kolam renang sendiri,,,hhe.... (ngelantur dikit... J )

Sewaktu memakai sampo, aku pakai di dalam jilbab. Adek-adek itu cuma heran melihat tingkahku. Mungkin dalam pikiran mereka,,, “Kak Nissa ni kok begini kali ya...?”

Namun ternyata, lama-lama mereka turut menjaga aku. Pernah waktu itu aku mandi pakai lengan pendek, namun jilbab yang dalam sehingga tanganku bisa ditutupi. Sesaat aku lengah, ternyata ada orang yang lewat, laki-laki. Adek-adek itu langsung bilang “Kak, ada laki-laki Kak...!”

Juga saat akan berganti pakaian, mereka tiba-tiba sudah berdiri mengelilingiku dan membentangkan handuk-handuk mereka yang besar-besar sambung menyambung untuk menutupi aku. Jujur, aku terharu...

Hari kian berganti.. Aku dan adek-adek itu semakin dekat. Sering aku dengar terujar dari mereka begini “Thia nio bana pakai jilbab bantuak Kak Nissa..”

Suatu hari ia bertanya,

28082010

Thia (T) :”Kakak sejak kapan pakai jilbab Kak?”

Aku (A) : “sejak SMP dek...”

T : “langsung kayak gini Kak?”

A : “hmm...waktu SMP tu Kakak pakai jilbab ke sekolah. Terus keluar rumah juga pakai.. Tapi kalau ada tamu ke rumah, Kakak belum pakai... trus waktu SMA Kakak udah pakai jilbab terus kalau ada tamu laki-laki ke rumah. Manset juga udah. Tapi nggak pakai kaus kaki kalau di rumah walau ada non muhrim nya.. Waktu kuliah baru lengap..”

T : (kepada temannya) “tu kan...nggak langsung kayak gini...bisa berangsur-angsur...”

(kepadaku) “Thia mau pakai jilbab Kak, tapi orang sini suka meledek...”

A : “ngapain kata orang dipikirin...coba pikirin apa kata Tuhan...”

T : “tapi kami nggak punya banyak baju lengan panjang Kak...”

A : “pake aja jaket kalau keluar rumah..”

T : “tapi shalat aja kami belum penuh 5 waktu sehari Kak..”

A: “jadikan jilbab itu yang menjaga kita.. Kan malu kalau orang bilang ‘pakai jilbab tapi nggak shalat!’, akhirnya kita jadi shalat. Daripada dosanya double..udah nggak shalat, nggak pakai jilbab lagi..”

Banyak lagi yang jadi kendala bagi mereka..sebisa mungkin berusaha dipatahkan.

29082010

Semalam aku berbuka di Lb. Sikaping. Baru pulang sudah agak larut, hampir semua penghuni rumah sudah tidur. Saat sahur, aku dikejutkan oleh Thia yang sudah memakai jilbab. Senang sekali melihatnya.

Saat subuh, aku mendapat kabar buruk yang menuntut aku agar ke Padang.

Hari itu, aku belum tahu bahwa semua adek-adekku disana sudah memakai jilbab.

30082010

Aku kembali ke Bonjol sore hari. Aku disambut bidadari-bidadari cantik itu, yang sekarang sudah menutup auratnya. Senang..alhamdulillah.. Jujur, lebih membanggakan daripada berhasil melntik dokter-dokter kecil... J

31082010

Perpisahan tiba... mereka semua menangis.. dalam tangis itu, aku meminta mereka berjnji untuk tetap memakai jilbab selamanya. Mereka mengiyakan.. Ya Allah, jaga lah adik-adikku itu...berikanlah keistiqamahan bagi mereka untuk mempertahankan hijabnya. Buatlah mereka menjadi agen-agen baru untuk perubahan di daerah tersebut...ke arah yang lebih baik..


No comments: