Tuesday, February 14, 2012
Gelar Itu Resmi Sudah.... :)
Sunday, March 20, 2011
Facts: Banyak Ikhwah Tidak Disenangi dalam Pergaulan?
Nah, saya juga sependapat dengan argumen-argumen yang mengatakan, itu oknum, jangan digeneralisasi! atau memangnya kenapa? toh, mereka bukan malaikat, pasti ada salah juga..
Tapi, tolong lah..penampilanmu tetap berbeda dibandingkan orang-orang lain itu (terutama untuk para akhwat). Saat orang-orang melihatmu, akan segera tergambar atau 'terharap' dalam hati bahwa kamu seharusnya begini, seharusnya begitu.
Namun sekarang, saya tidak berlebihan bila menyebutkan, bahwa imej yang tergambar dalam pikiran banyak orang saat pertama melihatmu adalah 'orang-orang seperti ini menyebalkan'. mungkin ini akibat orang-orag sebelum kamu yang berbuat hal tidak mengenakkan jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi, bagaimana tidak,,senyum tidak, bicara ketus, menyuruh-nyuruh dengan bossy.. Memang, hal ini banyak juga dilakukan oleh orang lain..tapi amanah yang kamu pikul lebih besar daripada mereka.. kamu harus mempertanggungjawabkan setiap kata-kata ataupun perbuatan yang kamu lakukan terhadap apa yang dipikirkan orang tentangmu.
Saya punya cerita, dulu..
teman-teman saya punya gelar untuk seseorang yang 'berpenampilan akhwat' di tempat kami. Mereka menyebutnya nenek lampir. Saya heran, bagaimana bisa sampai seperti itu. Saya bertanya, memangnya kenapa? Lalu mereka menceritakan pengalaman apa yang mereka alami bersama sang akhwat.
Waktu itu mereka melaporkan tentang sesuatu (maaf, lebih baik disamarkan). Mereka mungkin melakukan kesalahan (wajarlah, kami disana memang untuk belajar, kalau tidak berbuat salah dan sudah pintar, buat apa lagi kami disana?) Lalu, si akhwat tadi mengomentari dengan kata-kata yang sangat tidak pantas dikeluarkannya. "masak lebih panjang tangan dari kaki, emangnya dia anak monyet?" dan kata 'anak monyet' itu diucapkannya berkali-kali dengan maksud mengejek kesalahan yang diperbuat teman saya. Saya, sebisa mungkin dimanapun, kapanpun, jika saya bisa akan berusaha menjaga nama baik ikhwah. Namun, saat itu jujur saya tidak tahu harus berkata apa.
Belum lagi yang saya alami sendiri. Dicuekin sewaktu senyum kepada seorang senior akhwat, padahal saya haqqul yakin beliau melihat saya. Yah, mungkin beliau sedang banyak masalah, pikirannya sedang menerawang kemana-mana. Lalu ada lagi, senior lagi, ikhwan, beliau mengadukan kesalahan yang diperbuat juniornya kepada ketuanya, padahal si senior itu tahu bahwa hal itu bisa sangat megancam kelulusan juniornya itu. Menurut saya, apa salahnya ia bilang secara baik-baik ke juniornya itu? Ia ingatkan dulu, kalau masih bandel baru dilaporkan.. Dan belakangan saya tahu, bahwa si junior itu sedang sakit, makanya terhambat melaksanakan tugasnya dengan baik, bukan dia nya yang malas..nah kan...!
Dulu, sewaktu akan masuk dunia klinik..saya banyak mendapat cerita dari senior-senior akhwat tentang beratnya mencuri-curi waktu untuk Liqo' saat di per-koas-an. Dan banyak yang menceritakan, dengan bangga, bahwa mereka terkadang harus menghilang saat jam dinas untuk memenuhi agenda wajib itu.
Hmm...tejadi pertentangan dalam hati saya. Saya kurang suka, jujur..entah iman di hati yang sedang pudar sehingga berpikiran seperti itu, atau entah kenapa.
Saya pernah mencobanya dulu. Dan apa yang saya rasakan? Sangat sangat tidak tenang. Saya adalah tipe orang yang takut sekali meninggalkan dinas, meski untuk agenda syar'i seperti itu. Saya titip pesan kepada seorang teman yang 'mengerti', lalu pergi. Memang waktu itu sedang tidak ada pasien, tapi tetap saja... Saat sekitar 1 jam kemudian saya kembali, saya rasakan pandangan teman-teman yang setim dinas dengan saya itu agak berbeda. Saya yakin itu bukan hanya perasaan saya saja.
Saya menemukan Kakak yang ternyata sependapat dengan saya. Dia tidak setuju tentang Liqo' di jam dinas. Ia pernah dinas bersama seorang teman akhwat lainnya, dan total koas yang dinas saat itu ada berempat. Temannya yang akhwat itu berbisik padanya, mengatakan bahwa ia mau pergi sebentar, buat Liqo'. Lalu dia menjawab, "kamu bisa jaga hati aku, tapi apa kamu bisa menjaga hati 2 orang teman kita itu?"
Ya,Kakak itu benar. Apa kita bisa menjamin bahwa orangg tidak akan berpikiran buruk tentang kita sedangkan mereka tidak paham?
Banyak lagi aku dengar si A pato, si B pato, karena mereka sering menghilang saat dinas. Mereka meghilang memang karena alasan syar'i, mereka tidak melalaikan tanggung jawab mereka, tapi apa orang lain tahu? apa orang lain bisa diberi tahu?
Banyak yang juga suka menghilang saat dinas tapi dianggap biasa aja oleh orang-orang.. Yah, biarlah itu urusan mereka.. kembali lagi, kamu mengemban tanggung jawab lebih dari orang-orang itu.
Banyak sekali aku mendengar hal lainnya. Apakah dalam bertutur kata, dalam menjalankan prinsipnya 'yang penting yang saya lakukan benar' dan dia tidak mempedulikan cara yang ia pilih dan bagaimana pandangan orang terhadapnya, dalam belajar, dalam ujian, dalam diskusi, dan lain-lain..
mungkin termasuk saya. Mungkin di luar sana juga ada segerombolan orang, atau bergerombol-gerombol orang yang sedang membicarakan ketidaksukaan mereka terhadap saya. Wallahualam..
Apa akibatnya?
Mungkin, lama kelamaan kita akan semakin susah diterima orang. Dibilang munafik? jangan heran..
Lalu, kapan akan berdakwah? sedangkan mengusahakan penerimaan diri saja tidak bisa? Bagaimana akan mengusahakan penerimaan kebaika-kebaikan yang ingin disampaikan?
Bahkan, ada yang rela mengubah penampilannya dari yang dulunya sangat berhijab menjadi agak 'melebur' demi berharap penerimaan di kalangan umum. Jangan salahkan ia, namun jangan juga benarkan.
Mari kita introspeksi..Perbaikan apa yang bisa kita lakukan untuk semua ini..
Dunia ini keras kawan...jangan berharap lingkungan kita bisa 'dikondisikan' menjadi optimal seperti kita kecil dulu, atau seperti kita di kampus dulu...
Saturday, February 19, 2011
Megenal Dunia Klinik
4 siklus besar itu adalah: Pediatri (anak), Bedah, Interne (Ilmu Penyakit Dalam), dan Obgyn (Kebidanan). Sedangkan 9 siklus lagi adalah anestesi, forensik, radiologi, PH (public health), mata, THT, Kulit, Jiwa, dan Neurologi.
Kalau dulu (dengar-dengar dari orang dulu), kita wajib mengikuti 4 siklus besar dulu baru kemudian memasuki siklus kecil satu per satu. Hal ini mungkin dikarenakan di siklus besar itu cakupan ilmunya sangat-sangat luas..hampir mencakup seluruh sistem. Sehingga nanti saat sudah memasuki siklus kecil (yang lebih spesifik), kita tidak akan canggung lagi karena paling tidak sudah mengerti sistem-sistem lainnya.
Nah, sekarang,...berhubung mahasiswa kedokteran SANGAT banyak...sistem pun tidak dibuat seperti itu lagi. Kita bisa memulai dunia klinik di siklus mana saja. Sebagai akibatnya, kita seperti selalu 'dituntut' untuk hal-hal yang bukan kesalahan kita. Seperti saat teman saya masuk pertama kali di neurologi, para konsulennya menanyakan siapa-siapa saja yang belum melewati siklus interne. Yah, jelas lah mereka belum. Dan saat itu beredar bahwa teman-temanku terancam akan memasuki siklus neuroLagi. huh....padahal kan bukan salah mereka....
Kita juga mengenal sisiak..
Apa itu sisiak? Sisiak is, sesuatu yang abstrak, yang kasat mata, merasuki jiwa seseorang dan akan menjadi hal paling dominan yang akan mempengaruhi nasibnya di dunia perkoasan.
Ada orang-orang yang bersisiak tebal, berskuama kasar...seberapapun rajinnya ia, sefisiologis apapun ia..kita akan kasihan melihatnya.
Ada juga orang-orang yang memang ditakdirkan bersisiak emas. Kita akan menggeleng-gelengkan keppala melihat betapa beruntungnya ia.
Dan, ada juga orang yang tergolong taksonomi tingkat tinggi. Ia memiliki vertebrae. Mungkin ia anak konsulen, sehingga ia akan diperhatikan semua residen maupun perawat. Tak perlu berjuangpun,nasibnya sudah tergambar. Mungkin juga ia kenal baik dengan konsulennya, residennya,dll.. sehingga akan banyak kemudahan-kemudahan yang ia dapatkan.
Banyak istilah-istilah yang beredar....tapi saya tidak terlalu gaul, jadi gak terlalu mengenal.....
Kapan-kapan disambung ya...karena saya sekarang lagi dinas di anak....siklus besar terberat nih kabarnya....
to be continued in Mengenal Dunia Klinik part 2
Friday, November 12, 2010
Aku Makin Seperti Mama? #1
cuma koleksi, kata beliau.. kalau Mama ke luar kota..Mama suka bertandang ke pasar-pasar tradisionalnya, bahkan ke pasar-pasar barang second. Disana biasanya ia menemukan barang-barang itu.
Dulu aku cuma geleg-geleng lihat kebiasaan Mama yang satu itu..
eh..sekarang...
hobi kami jadi sama
aku juga jadi suka lihat barang-barang sejenis itu..karena belum punya uang, aku baru sebatas 'suka lihat'..belum bisa beli-beli..Kalau Mama beli barang-barang itu, g ada lag protes-protes keluar dari mulutku..
Sekarang, kalau ke supermarket atau ke pusat perbelanjaan mana aja, pojok rak-rak yang aku suka adalah rak-rak tempat barang-barang dapur.. Jadi suka lihat panci, penggorengan,,mangkuk-mangkuk lucu..mug-mug unik, sendok, dll....menarik b(^_^)d
Monday, October 25, 2010
Tidak Ada Rasa=An-Estesi?
Koas--koeh--dokter muda
welcome back!!
nggak tanggung-tanggung, setelah tubuh ini agak terbiasa dengan kebebasan tanpa keterikatan, aku ditempatkan di siklus anestesi. Penempatannya memang jadi aneh. Karena, kalau ikut alur yang seharusnya (kayak emang ada alur siklus resminya aja), setelah siklus bedah kemarin aku akan masuk siklus PH (public health) atau Mata. Yah, bukan berarti aku mau santai-santai atau apa, tapi paling nggak di dua siklus itu nggak ada dinasnya. Juga, aku kan mau ikut Antibiotic 6....huhuhu
Hari pertama, kami sudah berkumpul di lantai 3 Instalasi Bedah Sentral pukul 07.30. Hmmm...harusnya pengalaman 2 siklus sebelumnya sedikit mengajarkanku..bahwa hari pertama ini nggak ngapa-ngapain, cuma nunggu sampaai kira-kira jam 11-an. Tapi tak pa-pa lah. Itung-itung kumpul-kumpul sama teman-teman karena udah lama nggak ketemu. Cerita kami sudah melebar kemana-mana, tapi masiiih belum juga. Trus, nggak lama kemudian, ada kabar bahwa kami yang ber-40 di siklus kecil ini nggak diterima semuanya. Harus ada yang cuti dulu, dan caranya dengan lotting nama. Teman-teman pada nggak mau cuti, alasan mereka "bilo ka tamat lai..",,,atau "ndak nio do, ambo alah gaek".....atau, "ndak do, siklus patamo ambo alah maulang pulo"
Aku waktu itu...deEp inSiDe My hEArt....mau aja cuti. Selain mood buat koas yang belum balik, aku juga mau fokus ke Antibiotic, dan mau hadir. Tapi ternyata, kabarnya ada perundingan antar konsulen-konsulen di dalam sana, dan akhirnya setuju menerima kami semua. Hufft...bagaimanapun, alhamdulillah....
Ada orientasi dulu. Kami dibekali apa-apa aja yang harus dilakuin di anestesi, ada pembagian baju anestesi dengan jaminan uang 100 ribu rupiah, trus juga pembagian log book. Aku rencananya waktu itu nggak ngambil baju anestesi itu, cuma mau pakai baju OK yang merah, karena dibilang si Ibuk yang ngurusin baju, bajunya itu nggak cukup buat 40 orang. Tapi pas di akhir, aku lihat baju-bajunya berlebih. Aku lihat, ukurannya XXL..gede banget! mau ah... dan akhirnya aku ambil... :)
kelompok pun dibagi. Aku dapat jadwal dinas pertama hari Rabu. Namun waktu itu, seorang temanku, Resti, yang dijadwalkan dinas hari Senin itu, punya sebuah agenda syar'i yang harus dihadiri. Jadilah aku menggantikannya... lagi-lagi aku dinas di hari pertama...ckckckck
Dinas pertama, dapat di OK IGD. Asli, MELELAHKAN! ampun.... bakat 'pembawa pasien' ku masih kuat...huh huh
hmm...hijab
pertama, hijab diri
hari pertama dinas itu, aku masih memakai kaus kaki, dan jilbab yang dalam (plus yang tadi, baju OK yang super gede). Trus pas mau subuhnya, seorang Ibu perawat, yang jilbabnya juga terjulur, mengingatkan. Kata beliau, di OK Sentral jangan pake kayak gitu, ntar dipermasalahin beberapa konsulen yang sensitif terhadap masalah itu..
hmm..baiklah Bu..saya mengerti. Saya sudah banyak mendengar setiap masuk OK sewaktu di THT dan Bedah.
Besoknya, 2 orang temanku, Rani dan Resti,memakai jilbab yang sangat dalam ke OK Sentral. Juga kaus kaki. Aku? aku memakai jilbab yang dari kampus, masih bisa kuusahakan menutup dada.
Trus, nggak lama, ada perawat yang ngomong sama Rani
"itu jilbabnya bawa dari luar ya? kok nggak jilbab OK yang dipakai?" (jilbabnya warna ungu kok..sama dengan warna bajunya..tapi ada hiasan kancing-kancing gitu..dan itu nggak diperbolehkan.
"Maaf Uni, baru jilbab ini yang ada..bajunya baru dapat kemarin.."
"nggak boleh ya, kayak gitu.. kan kamu bisa pakai topi.."
????!!??!!
Habis itu, ada juga seorang Uda, residen THT yang menasihatinya. Aku dengar waktu itu. Aku tau, Uda itu seorangg yang bagus agamanya (insyaAllah). Kata beliau, jangan pakai kayak gitu lagi..dulu masalah ini sempat meledak,dan beberapa konsulen marah-marah. Sekarang sudah mereda, jangan sampai masalah jilbab itu muncul lagi..
Aku ngomong sama Rani..lebih baik dia di ruang ganti aja sampai selesai, mumpung dia nggak ada OK. Dia setuju, sekalian mau nyelesaiin laporan KKN katanya. Dan besoknya, aku diceritain Rani bahwa dia ketemu Ni Fit, residen THT, dan dia cerita soal itu. Uni cuma tersenyum, bilang "kita turuti aja sekarang dulu. Uni dulu awalnya juga bersikeras, sampai-sampai Uni disidang. Paling nggak sekarang udah lebih baik"
hmm...masih minoritas.
Mudah-mudahan, suatu hari nanti dibolehkan
kedua, hijab lawan jenis
dinas berarti 24 jam bersama tim dinas. Ada cowok ada cewek. Beruntung kalau dapat tim yang cewek semua. Kalau nggak, siap-siaplah untuk 'berbaur' sangat 'akrab'. Tidur di 'gua hira' anestesi, digabung aja cowok-ceweknya. Mungkin karena udah kecapean banget, nggak dipikirin lagi hal-hal lainnya. Cuma, aku merasa siklus ini agak beda, agak lebih baik. Dulu, waktu aku di bedah, aku lihat anak-anak anestesinya emang tidur demppet-dempetan gitu cewek dan cowokya. Mungkin karena space yang sangat kurang..ckckck
tidur, sebisa mungkin ditupi..pake mukenah, kain sarung, atau pake baju dinas
anestesi dibilang nggak ada rasa kayaknya nggak tepat juga.
ada banyak rasa disini
ngantuk berat setiap habis dinas
sedih sewaktu dihukum dinas 2 hari berturut-turut
deg-degan setiap mau lapor preop ke konsulen
haru melihat gigihnya Ayah pasien ICU bolak-balik ngambil obat
senang sewaktu berhasil melakukan intubasi pertama ke pasien
sesak dan nggak bisa nahan tangis waktu ada pasien yang udah dirawat seminggu dengan ventilator akhirnya meninggal
sebel waktu didesak-desak residen bedah
kaget sewaktu keluar hasil lotting nama pengujiku
dan sekarang, Senin, 25 Oktober 2010, pukul 04.08 di ICU, aku masih dinas di ICU. Cuma ada 2 pasien, dan dua-duanya stabil. Semoga mereka sembuh.
Nanti pagi aku melanjutkan ke Interne. Jilbab putihku udah kusiapkan. Semoga aku nggak balik lagi ke anestesi ini sebagai koas--koeh--atau dokter muda. Kalau waktu udah jadi dokter, boleh lah kesini lagi... ^_^
bismillah, my next destination is waiting for me
Thursday, September 2, 2010
Revolusi Hijab
12072010
Bus kota yang mengangkut kami dari kota Padang tadi berlalu meninggalkan kami di depan sebuah rumah yang terlihat sederhana namun asri. Aku tergopoh-gopoh membawa barang-barangku yang cukup banyak ke dalam rumah. Disana, kami disambut oleh keluarga penghuni rumah tersebut dengan ramah sekali. Namun, mungkin karena di antara kami berempat juga baru kenal, suasana memang sangat canggung.
Tak lama, mengingat senja semakin berlalu, dan kami belum shalat maghrib, kami pun meminta izin untuk shalat. Uni si pemilik rumah kemudian menunjukkan sebuah kamar tempat aku dan teman sekelompokku yang perempuan akan tempati.
Memasuki kamar, hmm...penerangan yang sangat tidak baik untuk kesehatan mata. Lantai beralaskan tikar plastik yang disambung-sambung. Dinding yang belum di cat.
Aku baru menyadari. Kami -anak KKN di jorongku ini- akan tinggal 1 rumah. Belum lagi laki-laki dewasa yang ada di rumah itu, ada 2 orang. Jilbab, sudah jelas.. tapi memakai kaus kaki sepanjang hari...?? belum kubayangkan sebelumnya.
Dimulailah saat selesai shalat maghrib hari itu.
*
*
Hari kedua KKN saja aku sudah dibuat kaget oleh banyak hal. Pagi itu teman-teman yang cowok mengajak jalan keliling jorong. Namun temanku yang cewek itu tidak memakai jilbab keluar rumah. Ia cuma memakai baju tidurnya. Ini fenomena baru bagiku...; ada anak kuliahan yang tidak memakai jilbab keluar rumah. Oke, aku sering mendengar beberapa orang yang tidak memakai jilbab jika berada dilingkungan rumahnya. Namun kalau disana, kan akan bertemu teman-teman kuliah yang lain, sama aja seperti di kampus. Jadi apa gunanya ia memakai jilbab ke kampus?
Kami berjalan kaki, menyapa setiap orang yang dijumpai. Kami sampai di jorong tetangga. Mampir ke rumah tempat anak KKN jorong tersebut tinggal. Keluarlah salah seorang anak KKN nya yang cewek. JUGA tidak memakai jilbab. Ckckckck...semakin heran aku...
Jujur, setidaknya, aku telah sedikit mewaspadai hal ini. Aku membawa banyak sekali kaus kaki.
dan ternyata, lantai dapurnya termasuk bukan tipe 'lantai kering', jadi agak lembap-lembap gitu.. Namun untungnya, aku juga membawa sandal kain yang buat di rumah. Jadi setiap ke dapur, aku memakainya.
Tapi, yang tetap sulit adalah membuka dan memakai kaus kaki setiap akan masuk dan keluar kamar mandi. Belum lagi jika sedang ada laki-laki di dapur, atau sedang menunggu antrian ke kamar mandi di depan pintu. Ditambah lagi, sebagian mereka tidak mengerti. Sering, setiap aku akan keluar kamar mandi,aku buka pintu sedikit untuk melihat keadaan di luar. Karena aku memakai kaus kakinya di luar kamar mandi, soalnya kalau di dalam kamar mandi jadi basah dong kaus kakinya... Lalu saat aku lihat keluar, ternyata ada laki-laki lagi nunggu di dekat sana, melihat aku membuka pintu. Kemudian aku masuk lagi dan tutup lagi pintunya, berharap dia mengerti dan agak menjauh dari sana. Tapi sewaktu aku buka pintu lagi, ternyata dia masih berdiri disana dan masih melihat ke kamar mandi....aduuhh..... Ini adalah salah satu hal yang membuatku ingin cepat-cepat menyelesaikan KKN.
Banyak juga pertanyaan yang hinggap. Suatu hari seorang adik berumur 5 tahun bertanya,
"Kakak kok pakai kaus kaki terus? dingin ya?"
aku jawab, "iya..."
dia bilang, "buka lah kaus kakinya Kak..." (sambil mengarahkan tangannya ke kakiku, ingin membuka kaus kakiku)
aku menghindar, "eh...jangan...Kakak suka pakai kaus kaki..."
Belum lagi dalam keseharian yang lain. Abang yang tinggal di rumah itu pernah bilang padaku, entah dia bercanda entah serius..
"Nissa bapaham-paham bana gaya Nissa beko awak karajoan Nissa ko. Anak KKN dulu ado nan bantuak Nissa pulo, bajilbab taruih. Awak suruak an jilbabnyo, manangih-nangihnyo."
Indonesian version: “Nissa kalau serius-serius kali nanti saya kerjain. Anak KKN yang dulu juga ada yang seperti Nissa, pakai jilbab terus. Saya sembunyikan jilbabnya, trus dia nangis-nangis”
Aku cuma ngucap mendengar itu..dan timbul ketakutan yang lumayan besar dalam hatiku. Mungkin Abang itu berbicara demikian karena aku tidak mau duduk-duduk di ruang tamu sama yang lain. Pemuda-pemuda jorong lumayan sering main ke rumah itu. Aku tidak mau ikut duduk disana buat ngobrol-ngobrol. Sedangkan temanku yang perempuan mau. Jadi kesannya aku tidak mau sosialisasi. Sejak itu aku agak mencairkan diri. Tetap memakai prinsip, “berbaur tapi tidak melebur”. Aku lebih memilih ini, sebelum ancaman tadi benar-benar diwujudkan.
Namun lama-kelamaan nada pertanyaan-pertanyaan mulai berubah. Seiring dengan ke-konsisten-an yang aku perlihatkan. Suatu hari Nenek di rumah itu pernah bertanya,
“Nissa pesantren dima dulu?”
Aku jawab, “ndak pesantren do Nek..”
Nenek: “apo dulu? MAN? Tsanawiyah?”
Aku jawab: “ndak pernah masuak sekolah agama do Nek..”
Tiba-tiba Uninya datang. “Nissa urang Padang Panjang Mak..urang sinan agamonyo kuek..”
Aku mesem-mesem aja..
Atau sewaktu mandi di sungai. Kami –aku, teman KKN ku yang cewek, beserta adek-adek cewek yang ada disana- pergi ke tempat yang sepi. Hanya sesekali ada orang yang lewat untuk menyeberangi sungai. Aku ikut mandi di sungai, namun tetap memakai jilbab dan memakai rok. Susah..sekali melawan arus karena memakai rok begitu. Namun ya bagaimana lagi..berenang adalah hobiku..makanya aku juga bercita-cita jadi orang kaya agar bisa bikin kolam renang sendiri,,,hhe.... (ngelantur dikit... J )
Sewaktu memakai sampo, aku pakai di dalam jilbab. Adek-adek itu cuma heran melihat tingkahku. Mungkin dalam pikiran mereka,,, “Kak Nissa ni kok begini kali ya...?”
Namun ternyata, lama-lama mereka turut menjaga aku. Pernah waktu itu aku mandi pakai lengan pendek, namun jilbab yang dalam sehingga tanganku bisa ditutupi. Sesaat aku lengah, ternyata ada orang yang lewat, laki-laki. Adek-adek itu langsung bilang “Kak, ada laki-laki Kak...!”
Juga saat akan berganti pakaian, mereka tiba-tiba sudah berdiri mengelilingiku dan membentangkan handuk-handuk mereka yang besar-besar sambung menyambung untuk menutupi aku. Jujur, aku terharu...
Hari kian berganti.. Aku dan adek-adek itu semakin dekat. Sering aku dengar terujar dari mereka begini “Thia nio bana pakai jilbab bantuak Kak Nissa..”
Suatu hari ia bertanya,
28082010
Thia (T) :”Kakak sejak kapan pakai jilbab Kak?”
Aku (A) : “sejak SMP dek...”
T : “langsung kayak gini Kak?”
A : “hmm...waktu SMP tu Kakak pakai jilbab ke sekolah. Terus keluar rumah juga pakai.. Tapi kalau ada tamu ke rumah, Kakak belum pakai... trus waktu SMA Kakak udah pakai jilbab terus kalau ada tamu laki-laki ke rumah. Manset juga udah. Tapi nggak pakai kaus kaki kalau di rumah walau ada non muhrim nya.. Waktu kuliah baru lengap..”
T : (kepada temannya) “tu kan...nggak langsung kayak gini...bisa berangsur-angsur...”
(kepadaku) “Thia mau pakai jilbab Kak, tapi orang sini suka meledek...”
A : “ngapain kata orang dipikirin...coba pikirin apa kata Tuhan...”
T : “tapi kami nggak punya banyak baju lengan panjang Kak...”
A : “pake aja jaket kalau keluar rumah..”
T : “tapi shalat aja kami belum penuh 5 waktu sehari Kak..”
A: “jadikan jilbab itu yang menjaga kita.. Kan malu kalau orang bilang ‘pakai jilbab tapi nggak shalat!’, akhirnya kita jadi shalat. Daripada dosanya double..udah nggak shalat, nggak pakai jilbab lagi..”
Banyak lagi yang jadi kendala bagi mereka..sebisa mungkin berusaha dipatahkan.
29082010
Semalam aku berbuka di Lb. Sikaping. Baru pulang sudah agak larut, hampir semua penghuni rumah sudah tidur. Saat sahur, aku dikejutkan oleh Thia yang sudah memakai jilbab. Senang sekali melihatnya.
Saat subuh, aku mendapat kabar buruk yang menuntut aku agar ke Padang.
Hari itu, aku belum tahu bahwa semua adek-adekku disana sudah memakai jilbab.
30082010
Aku kembali ke Bonjol sore hari. Aku disambut bidadari-bidadari cantik itu, yang sekarang sudah menutup auratnya. Senang..alhamdulillah.. Jujur, lebih membanggakan daripada berhasil melntik dokter-dokter kecil... J
31082010
Perpisahan tiba... mereka semua menangis.. dalam tangis itu, aku meminta mereka berjnji untuk tetap memakai jilbab selamanya. Mereka mengiyakan.. Ya Allah, jaga lah adik-adikku itu...berikanlah keistiqamahan bagi mereka untuk mempertahankan hijabnya. Buatlah mereka menjadi agen-agen baru untuk perubahan di daerah tersebut...ke arah yang lebih baik..
Wednesday, August 25, 2010
Benar-benar Menang
Dulu, ntah tahun berapa aku tak ingat, saat kembali ke Padang setelah hari raya Idul Fitri, muncul di pikiranku yang waktu itu masih seorang anak kecil, "selesai..lebaran selesai. Gitu aja? sekarang balik lagi ke rutinitas seperti biasa. Bosannyaa hidup ini.. tahun depan lebaran lagi, trus seperti biasa lagi,,huh...sampai mati akan seperti ini terus"
Seingatku, (semampu aku mengingat kejadian-kejadian yang ada dalam hidupku), aku belum pernah merasakan lebaran di kota Padang. Walau, aku bisa dibilang tidak pernah beranjak dari kota tersebut. Lahir, tumbuh, sekolah, semuanya di Padang (setidaknya sampai saat ini). Namun, ya, begitu..momen lebaran terlalu 'biasa' untuk dirayakan di Padang bagi orang yang punya kampung seperti aku. Setiap tahun selalu berganti-ganti. Jika tahun ini berlebaran di Padang Panjang, tahun depan mesti di Payakumbuh. begitu terus, ganti-gantian antara kampung Mama dan kampung Papa. Jika shalat 'ied nya dilakukan di Payakumbuh (Suliki lebih tepatnya), sore atau malam harinya kami harus segera berangkat ke Padang Panjang. Pokoknya adil..!
Kedekatan dengan keluarga? Jangan ditanya... Kami termasuk keluarga yang masih menjunjung tinggi adat istiadat Minangkabau. Silaturrahim antar keluarga, walau jika ditelusuri hubungannya ada pada kakeknya nenekku, tetap dijaga. Masalah panggilan juga sangat diatur oleh Mamaku. Tidak ada cerita suami dari Tanteku dari pihak Mama dipanggil 'Om', karena ia adalah 'Bapak', jadi panggilannya 'Pak Etek', walau sebagian orang berpikir akan lebih bagus kedengarannya jika panggilannya 'Om'. Seseorang yang seumuran Abangku pun bisa dipanggil 'Mamak', karena kedudukannya dalam silsilah keluargaku ternyata sejajar dengan Mamaku.
*
*
Lebaran, memang ditunggu-tunggu. Bisa aku sebut, Ramadhan dan Idul Fitri adalah poros kehidupan dalam setiap tahun. Bukan tengah tahun, walau disana ada momen kelulusan SPMB dan aku diterima di FK Unand dan Abangku di ITB. Bukan bulan April, Juli, atau Oktober, walau disana ada event wisuda. Bukan bulan Maret, walau bulan tersebut anniversary-nya Mama-Papa maupun hari pernikahan Uda ku. Bukan.. Seluruh waktu dan tenaga sepanjang tahun tercurah pada satu waktu. Hari kemenangan yang besar setelah sebulan penuh mengalahkan hawa nafsu. Kapan lagi saat berkumpul dengan keluarga besar dengan hati yang riang gembira dan insyaAllah telah berhasil diputihkan? Aku rasa non muslim pun iri melihat kita ummat Islam punya hari tersebut. Kita tidak sekedar menjalani hari-hari seperti biasa, dan tiba-tiba menghias pohon kemudian bersuka cita merayakan hari kelahiran seseorang entah siapa.
Lebaran bukan rutinitas. Selalu ada perasaan yang meluap-luap setiap ia datang. Entah apa yang kau cari dalam hidup jika kautidak bisa merasakan perasaan sejenis itu.
15 hari lagi.
Manfaatkan itu. Jangan kita sia-siakan kesempatan mensucikan diri pada bulan ini. Jangan rela jika hanya ikut-ikutan merayakan idul fitri, tanpa dapat merasakan esensinya.
Untuk yang jauh dari keluarga, pulanglah... Bayangkan senyuman mereka dan senyumanmu yang akan merekah saat bertemu nanti.
Friday, February 5, 2010
Zuhud??
Saturday, January 30, 2010
BERPISAH
Yah, Semoga

Wednesday, January 27, 2010
FSKI 2009, Thank You...
- sekre, bukan sekre baru sih..tapi bisa disebut pengkondisiannya yang baru. Banyak inventaris tambahan dari tahun lalu, dan terutama adalah komputer. Sekre jadi rumah kedua bagi aku dan teman-teman seperti Ayu, Silvia, Fristawan, Dian, Resti, dll.. Apalagi sejak dibukanya 'kantin kejujuran' danus di sekre. Dulu karena kuliah masih di GH dan PSIKM, hampir setiap pergantian jam kuliah atau selesai kuliah kami ke sekre. Tapi sejak kuliah di aula (pasca gempa) jadi agak jarang ke sekre
- jalan-jalan. Jadi presidium ataupun pengurus FSKI membuatku beberapa kali jalan-jalan, baik lokal, interlokal, maupun SLI,, eh bukan, lokal, antarkota, ataupun antarnegara. Aku serasa sudah dewasa karena tempat hang out aku pada hari Minggu adalah menghadiri walimah seseorang bersama presidium yang lain. Walimahnya ada yang di Padang (walimah dr. Benny Indra), Bukittinggi (Kak Yati), dan Solok (Ni Ul dan Bang Hasdi). Aku juga berkesempatan berangkat ke luar negeri untuk pertama kalinya (meski hanya ke negara jiran, Malaysia), dengan biaya yang aku dan teman-teman perjuangkan sendiri. Aku mengikuti sebuah acara kelas dunia "FIMA International Medical Student Camp" di Langkawi, Malaysia selama satu minggu. Disana aku bertemu teman-teman muslimin-muslimat dari berbagai penjuru dunia. Setelah seminggu disana, aku lalu ke Kuala Lumpur dan berliburan disana selama 5 hari, mengunjungi tempat-tempat indah dan mengasyikkan. Juga di akhir kepengurusan, ada proker KPSDM yang membawa kami jalan-jalan ke Puncak Lawang, Bayur, dan Pantai Tiku. Meski dari sana aku membawa pulang oleh-oleh jari fraktur
- sepaket kue, snacks, dan roti hadiah juara 1 lomba minuman segar antar departemen dan biro FSKI dalam acara Cucumber (Kyumpul-kyumpul Bareng)-nya DIA FSKI. Waktu itu kami membuat minuman timun+sirup melon+natadeCoco+selasih. Mungkin biasa aja sepertinya. Tapi aku rasa kami menang dalam hal penyajian untuk juri. Kami memakai gelas tinggi yang pinggir gelasnya ditaburi gula pasir, dan salah satu sisinya diselipkan kurma. Hhe...untung ada kurma yang tersisa di rumah waktu itu...
- dojo MusKe' (hho..namanya belum resmi nih), yaitu Dojo Muslimah Kedokteran. Sebenarnya ini adalah club bentukan DIA FSKI untuk memfasilitasi muslimah-muslimah FK yang ingin belajar bela diri. Jadwalnya Senin, Rabu dan Sabtu di lapangan anatomi. Meski gerimis, hujan, kami tetap latihan. Senpainya lucu banget, bisa fleksibel kapan mau serius dan kapan mau bercanda. Osh Senpai!!!
- 2 buah notebook (bukan laptop loh..tp benaran notebook, buku catatan). Terhitung aku mengikuti TO Blok nya IMC sebanyak 3 kali di kepengurusan ini. TO pertama yang aku ikuti dimenangkan oleh Vira, dan aku mendapat peringkat ketiga. TO kedua yang aku ikuti adalah TO Blok 19 (Blok Indera Khusus), dan alhamdulillah aku peringkat pertama. TO ketiga yang aku ikuti sewaktu Blok 20 (Blok Kesehatan Keluarga), alhamdulillah juga peringkat pertama. Hadiahnya dua-duanya notebook yang sama. Yang pertama berwarna hijau, dan sudah aku gunakan untuk agenda harianku. Nah, waktu yang kedua, kebetulan Ayu juga peringkat pertama dalam TO Blok 14 (Blok Neuropsikiatri). Kami diberikan hadiah bersamaan. Lalu Ayu memilih salah satu, dan ternyata berwarna hijau, sedangkan yang untukku berwarna merah.. Hho..kebetulan yang bagus..kalo nggak kan punyaku jadi warna hijau dua-duanya..
- ilmu, saudara, ukhuwah. Inilah yang terpenting, tak ternilai. Begitu banyak daurah dan majelis-majelis ilmu yang disajikan FSKI. Sepanjang perjalanan ini aku bertemu orang-orang luar biasa, dengan ukhuwah yang juga indah. InsyaAllah, kita akan jaga ukhuwah ini selalu. Uhibukuma fillah ikhwatifillah...
Wednesday, December 30, 2009
Dalam Kegamangan--Semoga Bertahan

‘Keributan’ yang terjadi belakangan ini membuat aku berpikir ulang tentang jalan yang telah aku pilih. Apa aku benar-benar akan disini selamanya, atau hanya saat ini?
Teringat diriku setahun lalu.
Setahun lalu, aku hanyalah seorang biasa. Bukan berarti aku ingin mengatakan bahwa aku yang sekarang adalah orang yang luar biasa, bukan. Aku yang setahun lalu, adalah seseorang yang hidup untuk diriku, keluargaku, dan teman-temanku. Aku larut dalam urusanku sendiri. Tergabung di BEM dan FSKI pun saat itu bertujuan untuk mencari pengalaman berorganisasi dan menambah panjang CVku. Aku yang terus datang ke halaqah hanya karena Kakak dan teman-teman kelompokku tidak bosan mengajakku, dan untungnya teman-temanku disana adalah teman-teman yang setipe dan aku merasa cocok dengan mereka.
Sampai suatu saat, di awal tahun ini, namaku tercantum dalam daftar nama peserta suatu pelatihan. Aku mengikuti technical meetingnya. Disana dibacakan aturan-aturan dan syarat-syarat menjelang dan selama acara. Sangat banyak amalan yaumi yang harus dilakukan. Aku sempat menggerutu dalam hati, “bukan begini caranya untuk mendidik seseorang…!” Ditambah lagi acaranya dilakukan setelah ujian, dan aku juga masih punya banyak tugas di BEM. Kapan aku akan menghafal, mencari, dan membaca buku yang ditugaskan itu?
Tibalah saat acara dilaksanakan. Hari pertama saja, kami langsung dikenai hukuman karena terlambat. Kami tidak boleh mengikuti acara pembukaan. Kami lalu beranjak ke mesjid, mencoba menghafal Assh Shaff dan al ma’tsurat disana. Teman-temanku sudah lumayan hafal. Aku hanya nelangsa memikirkan nasibku tiga hari ke depan.
Setelah shalat ashar, kami dibolehkan masuk lagi mengikuti materi pertama. Materi diisi oleh seorang ikhwan yang sudah sering mengisi daurah di kampus. Namun saat itu ia berbeda. Ia menjadi lebih keras dan lebih kejam (menurut penilaianku saat itu). Ia menyuruh kami semua menutup mata dan bertanya tentang tugas-tugas yang telah diberikan, apakah sudah kami penuhi atau belum. Dan yang belum, langsung dihukum. Begitulah hal yang berjalan 2 hari kedepannya. Penuh dengan hukuman.
Namun apa aku menyesal mengikuti pelatihan tersebut?
Alhamdulillah tidak.. Pelatihan itulah yang telah membuka mataku. Pelatihan itu telah memberi tahuku banyak hal. Aku jadi tahu tentang adanya manhaj dakwah kampus, tentang adanya suatu sistem menakjubkan dalam sebuah syuro, dan yang terpenting, aku jadi tahu tentang impian-impian besar menciptakan dunia ikhwah suatu saat nanti.
Saat itu ghiroh ini muncul. Aku harus menjadi bagian dari mereka, bagian dari orang-orang yang berjuang menciptakan impian besar itu, walau mungkin nanti aku tidak sempat mencicipi saat semua itu terwujud.
.
.
Mengupgrade diri dan iman, mempunyai binaan, menjadi qudwah bagi mereka, menjaga segala tingkah laku dan ucapan...
Pikiran-pikiran lain pun bermunculan. Sampai kapan aku seperti itu? Apa sampai akhir hidupku? Lalu kemana kebebasanku? Dimana akan kuletakkan semua mimpiku untuk menapakkan kaki ini di negara-negara menakjubkan sana?
Entahlah….
Aku jadi teringat sebuah sms yang pernah masuk ke HP ku. Kurang lebih bunyinya begini “perjuangan ini baru akan berhenti dan kita bisa melepas lelah hingga kaki ini menapak di surga”
Walau semua mimpi itu terlihat sangat menggiurkan (dan walau sampai saat ini pun aku belum mendapatkan cara mewujudkannya, aku tetap berharap..), aku tidak mau melepaskan kesempatan ini. Allah pasti punya rencana yang sedemikian indah untuk hamba-hambaNya. Mudah-mudahan…
Terkadang timbul kegamangan, apa mungkin akan bertahan sampai akhir hayatku?? Tak sedikit orang yang kusaksikan berhenti di tengah jalan. Senior-seniorku sering menertawakan hal itu (teman-temannya yang sudah berubah itu). Mereka membahas tentang ikhwan A yang sekarang sudah memakai jeans, padahal dulu sewaktu ghiroh pernah menegur ikhwan lain yang memakai topi karena tidak sesuai dengan sunnah Rasul. Atau akhwat F yang terlihat memakai jilbab dililit-lilit ke leher di foto undangan walimahnya, padahal dulu jilbabnya begitu rapi. Atau akhwat X yang sekarang sudah memakai celana padahal dulu selalu memakai rok kemana-mana.
Mungkinkah aku juga akan gagal?
Mudah-mudahan tidak.
Juga tak sedikit aku saksikan orang-orang yang berhasil bertahan. Apa mereka bosan dengan jalan hidup mereka? InsyaAllah tidak.. Mereka tetap bahagia dalam setiap keterbatasan mereka. Karena mereka yakin, akan ada saatnya nanti dimana mereka akan merasakan nikmatnya berbuka setelah sekian lama berpuasa dari segala bujuk rayu dunia. Ya, dua kenikmatan bagi orang yang berpuasa adalah saat berbuka dan ganjaran yang besar dari Allah.
.
.
Aku menulis ini pun sebenarnya dengan penuh keraguan. Aku takut malah ini yang akan menjadi bukti otentik bagi orang lain untuk menuntutku suatu saat nanti.
Namun, aku berharap, tulisan ini akan jadi pelecut bagi diriku untuk bangkit jika aku sempat terjatuh dan berpikir untuk tidak berdiri lagi di jalan berbatu ini suatu saat nanti.
Saturday, September 19, 2009
Takut
Tp sekarang..rasa bersalah,takut,sedih,gundah,malu,,bercampur di hati ini. Aku benar-benar takut tak dapat berjumpa lagi dengan Ramadhan thn depan..
Aku malu mengingat amalan-amalanku. Meski,insyaAllah lbh baik dr thn lalu (trlepas dterima/tidak nya amalan-amalan itu),namun tetap saja aku gagal mencapai targetan-targetanku yg telah kutetapkan sblm bulan ini dtg. Apa mgkn seiring brtambhnya pmahaman,tnggung jawabpun akan semakin besar..?
Astaghfirullaahal'adziim..
Monday, September 14, 2009
Fase Lemah
sendiri, terpaku, disini
meringkuk dalam keterpurukan tanpa arti
tetes demi tetes mutiara mengalir membentuk goresan basah di pipi
jika ditanya -jika ada yang bertanya- ada apa sebenarnya..
tak ada jawaban yang dapat kuberi
semua kan berlalu, itu yang perlu kuyakini
semua ini tak kan lama
biarlah saat ini kutenggelam dulu lebih dalam
suatu saat ku kan punya kekuatan lebih tuk capai cahaya mentari
mutiara-mutiaraku
teruslah mengalir..
hingga lepas sesak ini