Pages

Showing posts with label islamituindah. Show all posts
Showing posts with label islamituindah. Show all posts

Sunday, March 20, 2011

Facts: Banyak Ikhwah Tidak Disenangi dalam Pergaulan?

Kedengarannya seperti terlalu mendeskriminasi kaum 'ikhwah'. Kenapa pembahasan disini hanya terkhusus bagi ikhwah? Memangnya mereka siapa? Apa bedanya dengan 'orang lain'?

Nah, saya juga sependapat dengan argumen-argumen yang mengatakan, itu oknum, jangan digeneralisasi! atau memangnya kenapa? toh, mereka bukan malaikat, pasti ada salah juga..
Tapi, tolong lah..penampilanmu tetap berbeda dibandingkan orang-orang lain itu (terutama untuk para akhwat). Saat orang-orang melihatmu, akan segera tergambar atau 'terharap' dalam hati bahwa kamu seharusnya begini, seharusnya begitu.

Namun sekarang, saya tidak berlebihan bila menyebutkan, bahwa imej yang tergambar dalam pikiran banyak orang saat pertama melihatmu adalah 'orang-orang seperti ini menyebalkan'. mungkin ini akibat orang-orag sebelum kamu yang berbuat hal tidak mengenakkan jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi, bagaimana tidak,,senyum tidak, bicara ketus, menyuruh-nyuruh dengan bossy.. Memang, hal ini banyak juga dilakukan oleh orang lain..tapi amanah yang kamu pikul lebih besar daripada mereka.. kamu harus mempertanggungjawabkan setiap kata-kata ataupun perbuatan yang kamu lakukan terhadap apa yang dipikirkan orang tentangmu.

Saya punya cerita, dulu..
teman-teman saya punya gelar untuk seseorang yang 'berpenampilan akhwat' di tempat kami. Mereka menyebutnya nenek lampir. Saya heran, bagaimana bisa sampai seperti itu. Saya bertanya, memangnya kenapa? Lalu mereka menceritakan pengalaman apa yang mereka alami bersama sang akhwat.
Waktu itu mereka melaporkan tentang sesuatu (maaf, lebih baik disamarkan). Mereka mungkin melakukan kesalahan (wajarlah, kami disana memang untuk belajar, kalau tidak berbuat salah dan sudah pintar, buat apa lagi kami disana?) Lalu, si akhwat tadi mengomentari dengan kata-kata yang sangat tidak pantas dikeluarkannya. "masak lebih panjang tangan dari kaki, emangnya dia anak monyet?" dan kata 'anak monyet' itu diucapkannya berkali-kali dengan maksud mengejek kesalahan yang diperbuat teman saya. Saya, sebisa mungkin dimanapun, kapanpun, jika saya bisa akan berusaha menjaga nama baik ikhwah. Namun, saat itu jujur saya tidak tahu harus berkata apa.

Belum lagi yang saya alami sendiri. Dicuekin sewaktu senyum kepada seorang senior akhwat, padahal saya haqqul yakin beliau melihat saya. Yah, mungkin beliau sedang banyak masalah, pikirannya sedang menerawang kemana-mana. Lalu ada lagi, senior lagi, ikhwan, beliau mengadukan kesalahan yang diperbuat juniornya kepada ketuanya, padahal si senior itu tahu bahwa hal itu bisa sangat megancam kelulusan juniornya itu. Menurut saya, apa salahnya ia bilang secara baik-baik ke juniornya itu? Ia ingatkan dulu, kalau masih bandel baru dilaporkan.. Dan belakangan saya tahu, bahwa si junior itu sedang sakit, makanya terhambat melaksanakan tugasnya dengan baik, bukan dia nya yang malas..nah kan...!

Dulu, sewaktu akan masuk dunia klinik..saya banyak mendapat cerita dari senior-senior akhwat tentang beratnya mencuri-curi waktu untuk Liqo' saat di per-koas-an. Dan banyak yang menceritakan, dengan bangga, bahwa mereka terkadang harus menghilang saat jam dinas untuk memenuhi agenda wajib itu.
Hmm...tejadi pertentangan dalam hati saya. Saya kurang suka, jujur..entah iman di hati yang sedang pudar sehingga berpikiran seperti itu, atau entah kenapa.
Saya pernah mencobanya dulu. Dan apa yang saya rasakan? Sangat sangat tidak tenang. Saya adalah tipe orang yang takut sekali meninggalkan dinas, meski untuk agenda syar'i seperti itu. Saya titip pesan kepada seorang teman yang 'mengerti', lalu pergi. Memang waktu itu sedang tidak ada pasien, tapi tetap saja... Saat sekitar 1 jam kemudian saya kembali, saya rasakan pandangan teman-teman yang setim dinas dengan saya itu agak berbeda. Saya yakin itu bukan hanya perasaan saya saja.

Saya menemukan Kakak yang ternyata sependapat dengan saya. Dia tidak setuju tentang Liqo' di jam dinas. Ia pernah dinas bersama seorang teman akhwat lainnya, dan total koas yang dinas saat itu ada berempat. Temannya yang akhwat itu berbisik padanya, mengatakan bahwa ia mau pergi sebentar, buat Liqo'. Lalu dia menjawab, "kamu bisa jaga hati aku, tapi apa kamu bisa menjaga hati 2 orang teman kita itu?"
Ya,Kakak itu benar. Apa kita bisa menjamin bahwa orangg tidak akan berpikiran buruk tentang kita sedangkan mereka tidak paham?
Banyak lagi aku dengar si A pato, si B pato, karena mereka sering menghilang saat dinas. Mereka meghilang memang karena alasan syar'i, mereka tidak melalaikan tanggung jawab mereka, tapi apa orang lain tahu? apa orang lain bisa diberi tahu?
Banyak yang juga suka menghilang saat dinas tapi dianggap biasa aja oleh orang-orang.. Yah, biarlah itu urusan mereka.. kembali lagi, kamu mengemban tanggung jawab lebih dari orang-orang itu.

Banyak sekali aku mendengar hal lainnya. Apakah dalam bertutur kata, dalam menjalankan prinsipnya 'yang penting yang saya lakukan benar' dan dia tidak mempedulikan cara yang ia pilih dan bagaimana pandangan orang terhadapnya, dalam belajar, dalam ujian, dalam diskusi, dan lain-lain..
mungkin termasuk saya. Mungkin di luar sana juga ada segerombolan orang, atau bergerombol-gerombol orang yang sedang membicarakan ketidaksukaan mereka terhadap saya. Wallahualam..

Apa akibatnya?
Mungkin, lama kelamaan kita akan semakin susah diterima orang. Dibilang munafik? jangan heran..
Lalu, kapan akan berdakwah? sedangkan mengusahakan penerimaan diri saja tidak bisa? Bagaimana akan mengusahakan penerimaan kebaika-kebaikan yang ingin disampaikan?

Bahkan, ada yang rela mengubah penampilannya dari yang dulunya sangat berhijab menjadi agak 'melebur' demi berharap penerimaan di kalangan umum. Jangan salahkan ia, namun jangan juga benarkan.

Mari kita introspeksi..Perbaikan apa yang bisa kita lakukan untuk semua ini..

Dunia ini keras kawan...jangan berharap lingkungan kita bisa 'dikondisikan' menjadi optimal seperti kita kecil dulu, atau seperti kita di kampus dulu...

Monday, October 25, 2010

Tidak Ada Rasa=An-Estesi?

tertanggal 27 September 2010, aku kembali ke kehidupan normalku yang menggiriskan setelah libur panjang (yang tidak benar-benar libur, karena harus ikut KKN) selama 3 bulan.

Koas--koeh--dokter muda

welcome back!!

nggak tanggung-tanggung, setelah tubuh ini agak terbiasa dengan kebebasan tanpa keterikatan, aku ditempatkan di siklus anestesi. Penempatannya memang jadi aneh. Karena, kalau ikut alur yang seharusnya (kayak emang ada alur siklus resminya aja), setelah siklus bedah kemarin aku akan masuk siklus PH (public health) atau Mata. Yah, bukan berarti aku mau santai-santai atau apa, tapi paling nggak di dua siklus itu nggak ada dinasnya. Juga, aku kan mau ikut Antibiotic 6....huhuhu

Hari pertama, kami sudah berkumpul di lantai 3 Instalasi Bedah Sentral pukul 07.30. Hmmm...harusnya pengalaman 2 siklus sebelumnya sedikit mengajarkanku..bahwa hari pertama ini nggak ngapa-ngapain, cuma nunggu sampaai kira-kira jam 11-an. Tapi tak pa-pa lah. Itung-itung kumpul-kumpul sama teman-teman karena udah lama nggak ketemu. Cerita kami sudah melebar kemana-mana, tapi masiiih belum juga. Trus, nggak lama kemudian, ada kabar bahwa kami yang ber-40 di siklus kecil ini nggak diterima semuanya. Harus ada yang cuti dulu, dan caranya dengan lotting nama. Teman-teman pada nggak mau cuti, alasan mereka "bilo ka tamat lai..",,,atau "ndak nio do, ambo alah gaek".....atau, "ndak do, siklus patamo ambo alah maulang pulo"

Aku waktu itu...deEp inSiDe My hEArt....mau aja cuti. Selain mood buat koas yang belum balik, aku juga mau fokus ke Antibiotic, dan mau hadir. Tapi ternyata, kabarnya ada perundingan antar konsulen-konsulen di dalam sana, dan akhirnya setuju menerima kami semua. Hufft...bagaimanapun, alhamdulillah....

Ada orientasi dulu. Kami dibekali apa-apa aja yang harus dilakuin di anestesi, ada pembagian baju anestesi dengan jaminan uang 100 ribu rupiah, trus juga pembagian log book. Aku rencananya waktu itu nggak ngambil baju anestesi itu, cuma mau pakai baju OK yang merah, karena dibilang si Ibuk yang ngurusin baju, bajunya itu nggak cukup buat 40 orang. Tapi pas di akhir, aku lihat baju-bajunya berlebih. Aku lihat, ukurannya XXL..gede banget! mau ah... dan akhirnya aku ambil... :)

kelompok pun dibagi. Aku dapat jadwal dinas pertama hari Rabu. Namun waktu itu, seorang temanku, Resti, yang dijadwalkan dinas hari Senin itu, punya sebuah agenda syar'i yang harus dihadiri. Jadilah aku menggantikannya... lagi-lagi aku dinas di hari pertama...ckckckck

Dinas pertama, dapat di OK IGD. Asli, MELELAHKAN! ampun.... bakat 'pembawa pasien' ku masih kuat...huh huh

hmm...hijab
pertama, hijab diri
hari pertama dinas itu, aku masih memakai kaus kaki, dan jilbab yang dalam (plus yang tadi, baju OK yang super gede). Trus pas mau subuhnya, seorang Ibu perawat, yang jilbabnya juga terjulur, mengingatkan. Kata beliau, di OK Sentral jangan pake kayak gitu, ntar dipermasalahin beberapa konsulen yang sensitif terhadap masalah itu..
hmm..baiklah Bu..saya mengerti. Saya sudah banyak mendengar setiap masuk OK sewaktu di THT dan Bedah.

Besoknya, 2 orang temanku, Rani dan Resti,memakai jilbab yang sangat dalam ke OK Sentral. Juga kaus kaki. Aku? aku memakai jilbab yang dari kampus, masih bisa kuusahakan menutup dada.
Trus, nggak lama, ada perawat yang ngomong sama Rani
"itu jilbabnya bawa dari luar ya? kok nggak jilbab OK yang dipakai?" (jilbabnya warna ungu kok..sama dengan warna bajunya..tapi ada hiasan kancing-kancing gitu..dan itu nggak diperbolehkan.
"Maaf Uni, baru jilbab ini yang ada..bajunya baru dapat kemarin.."
"nggak boleh ya, kayak gitu.. kan kamu bisa pakai topi.."
????!!??!!

Habis itu, ada juga seorang Uda, residen THT yang menasihatinya. Aku dengar waktu itu. Aku tau, Uda itu seorangg yang bagus agamanya (insyaAllah). Kata beliau, jangan pakai kayak gitu lagi..dulu masalah ini sempat meledak,dan beberapa konsulen marah-marah. Sekarang sudah mereda, jangan sampai masalah jilbab itu muncul lagi..

Aku ngomong sama Rani..lebih baik dia di ruang ganti aja sampai selesai, mumpung dia nggak ada OK. Dia setuju, sekalian mau nyelesaiin laporan KKN katanya. Dan besoknya, aku diceritain Rani bahwa dia ketemu Ni Fit, residen THT, dan dia cerita soal itu. Uni cuma tersenyum, bilang "kita turuti aja sekarang dulu. Uni dulu awalnya juga bersikeras, sampai-sampai Uni disidang. Paling nggak sekarang udah lebih baik"

hmm...masih minoritas.
Mudah-mudahan, suatu hari nanti dibolehkan


kedua, hijab lawan jenis
dinas berarti 24 jam bersama tim dinas. Ada cowok ada cewek. Beruntung kalau dapat tim yang cewek semua. Kalau nggak, siap-siaplah untuk 'berbaur' sangat 'akrab'. Tidur di 'gua hira' anestesi, digabung aja cowok-ceweknya. Mungkin karena udah kecapean banget, nggak dipikirin lagi hal-hal lainnya. Cuma, aku merasa siklus ini agak beda, agak lebih baik. Dulu, waktu aku di bedah, aku lihat anak-anak anestesinya emang tidur demppet-dempetan gitu cewek dan cowokya. Mungkin karena space yang sangat kurang..ckckck
tidur, sebisa mungkin ditupi..pake mukenah, kain sarung, atau pake baju dinas


anestesi dibilang nggak ada rasa kayaknya nggak tepat juga.
ada banyak rasa disini
ngantuk berat setiap habis dinas
sedih sewaktu dihukum dinas 2 hari berturut-turut
deg-degan setiap mau lapor preop ke konsulen
haru melihat gigihnya Ayah pasien ICU bolak-balik ngambil obat
senang sewaktu berhasil melakukan intubasi pertama ke pasien
sesak dan nggak bisa nahan tangis waktu ada pasien yang udah dirawat seminggu dengan ventilator akhirnya meninggal
sebel waktu didesak-desak residen bedah
kaget sewaktu keluar hasil lotting nama pengujiku


dan sekarang, Senin, 25 Oktober 2010, pukul 04.08 di ICU, aku masih dinas di ICU. Cuma ada 2 pasien, dan dua-duanya stabil. Semoga mereka sembuh.
Nanti pagi aku melanjutkan ke Interne. Jilbab putihku udah kusiapkan. Semoga aku nggak balik lagi ke anestesi ini sebagai koas--koeh--atau dokter muda. Kalau waktu udah jadi dokter, boleh lah kesini lagi... ^_^

bismillah, my next destination is waiting for me

Thursday, September 16, 2010

Ifthor Jama'i BSMI Cab. Padang, Ramadhan 1431 H

Hari Sabtu, tanggal 4 September 2010, telah diadakan buka bareng BSMI Cabang Padang. Acara ini sudah disepakati sebelumnya, bahwa akan diadakan di rumah salah satu relawan. Dan langsung, dengan semena-mena, sang relawan yang bersangkutan juga menjadi PJ alias Penanggungjawab acara tersebut. Juga disepakati kami tidak menggunakan jasa catering karena percaya diri dengan kemampuan memasak relawan-relawan senior..(padahal alasan utamanya karena tidak ada dana,,,hhe).
Dimulailah persiapan-persiapan...

Sang PJ meminta jasa seorang relawan yang tak diragukan kemampuannya dalam hal ini untuk membuat undangan. Pake denah segala... Denah yang tadinya kayak gambar anak TK disulap menjadi bagus sekali. Hingga terbitlah undangan yang ditunggu-tunggu,


awalnya disepakati bahwa undangan yang dipublish di fb itu (sekali lagi, demi menghemat dana, undangannya tidak dicetak), akan dibikin 'private'. Hanya bisa dilihat oleh para undangan. Tapi, entahlah berhasil atau nggak.. (berhasil g??)


Kemudian, disepakatilah relawan-relawan yang berada di Padang, dan berkesempatan hadir, untuk datang ke lokasi sejak pagi. Tapi jadinya g pagi-pagi juga, janjinya jam 11. Pagi itu, menu apa yang akan dimasak juga belum diputuskan. Akhirnya pagi-pagi, sang relawan yang jadi PJ beranjak ke pasar pagi untuk berbelanja. Ia beli saja sesuka hatinya.. 3 ekor ayam, bumbu-bumbu dasar, sirup melon, nata de coco, dll..

Pulang ke rumah, ternyata relawan-relawan yang akan datang jam 11 masih belum berdatangan. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat. Katanya ada yang masih menunggu relawan-relawan lain, ada yang masih ada urusan di RS, ada yang ujian skills lab, ada yang kedatangan keluarganya...

Akhirnya relawan yang pertama datang adalah Silfia. Kami pun bersama-sama mencuci ayam. Kemudian disusul Bang Taufik. Bang Taufik lalu sibuk menghubungi yang lain. Tak lama, datanglah para relawan tersebut diangkut oleh puskel BSMI. Ada B
ang Bubuy, Adri, Zakiy, Akhnal, dan Rizky, adeknya Bang Bubuy. Kemudian datang lagi Adik, lalu Benny.

Melihat bahan-bahan yang dibeli si PJ belum lengkap, para koki memutuskan akan berbelanja lagi. Namun, karena takut kulit mereka yang terawat dirusak sinar matahari, juga takut wewangian mereka menguap karena berbaur dengan warga pas
ar tradisional, plus takut merasakan dahaga ekstra karena kepanasan, mereka memutuskan untuk bebrbelanja di foodmart Basko.

Oia Bang Bubuy, ternyata setelah nsa tanya ke Mama, harga cabe saat itu memang sedang turun. Seperempat kg cuma 5 ribu. Jadi emng kemahalan belanja di foodmart, ya iya lah, kita kan mesti bayar pajak dan biaya AC nya. Yang Nsa jawab waktu itu harga cabe waktu Nsa masih di Bonjol,,hhe

Singkat kata, selesailah aneka masakan hingga maghrib menjelang.
Ada gulai ayam, bakwan ungu, cake kering dan cake basah, sambalado ala Akhnal, capcay yang juga didominasi ungu. Untuk lengkapnya tentang menu-menu tersebut, bisa dibaca disini


Alhamdulillah, lumayan banyak orang-orang yang datang... Para relawan bayak yang 'babaso' pas makan..Mungkin bisa jadi evaluasi bagi kita, supaya g prasmanan lagi, biar ga malu-malu lagi ambil makanannya...




BSMI, care for life

Monday, September 6, 2010

Masih Perlukah Wanita Belajar Memasak?


Sebuah pekerjaan rumah tangga yang kini mulai ditinggalkan wanita modern

Hasan mengernyitkan kening ketika menyantap nasi goreng buatan Rahmi, istri barunya. Di bibirnya tersungging sebuah senyum tipis, sementara Rahmi memandang suaminya penuh rasa cemas. Benar dugaannya, hingga kali ketiga ia memasakkan nasi goreng untuk suaminya ternyata belum juga bisa terasa pas di lidah. "Enak...," hibur suaminya sambil meneruskan, "Cuma terlalu asin." Rahmi tersenyum kecut menahan malu.
Setelah hampir sebulan lalu keduanya menikah, baru tak lebih dari dua pekan mereka menempati rumah kontrakannya. Sejak saat itu Rahmi memang harus memasak, mencuci, dan menyeterika sendiri. Pekerjaan-pekerjaan yang tak pernah ia sentuh ketika masih gadis. Ibunya tak pernah mengajarkan pekerjaan-pekerjaan semacam itu kepadanya, dan semasa kuliah pun habis waktunya untuk belajar melulu.
Beruntung, Hasan termasuk suami yang mau mengerti latar belakang kehidupan istrinya, hingga selanjutnya justru Hasanlah yang mengajari Rahmi berbagai resep masakan.

Di era globalisasi ini, semakin banyak gadis yang senasib seperti Rahmi. Sekolah tinggi, pandai, mandiri, tetapi tak bisa memasak, tak suka mencuci ataupun menyapu halaman. Kamarnya penuh buku diktat berantakan, debu di rak buku dan jendela sudah berminggu-minggu belum dibersihkan, tetapi gadis penghuni kamar itu tetap asyik berkutat dengan buku-buku pelajaran dan komputernya.
Jika dilihat dari kesibukan jadwal kuliah dan materi pelajaran yang ekstra berat, kita mungkin bisa memahami mengapa gadis-gadis pandai itu begitu giat belajar hingga melalaikan pekerjaan-pekerjaan teknis. Dianggapnya pekerjaan-pekerjan itu hanya membuang waktu, buang tenaga, tidak bermanfaat, dan terlalu remeh dibandingkan tugas belajar yang berat.
Benarkah pendapat itu?
Tentu saja salah besar. Setiap pekerjaan, seremeh apapun, pasti ada manfaatnya. Khusus untuk pekerjaan-pekerjaan kecil dalam rumah tangga seperti ini, sebenarnya memiliki manfaat cukup besar pula bagi kaum hawa. Apa saja manfaatnya, akan kita bahas berikut ini.


Bukan Pekerjaan Remeh
Pekerjaan memasak, misalnya, akan menajamkan perasaan seseorang. Kepandaian merajang bawang merah dengan sama tipis, sama sekali bukan hal yang mudah. Memperkirakan minyak agar tidak terlalu panas sehingga kerupuk bisa mekar dengan baik sempurna, kuningnya pas, dan tidak terlalu coklat pun butuh kepekaan perasaan. Belum lagi persoalan penataan hidangan di meja makan, bagaimana bisa nampak lebih menarik untuk disantap, semuanya butuh kelembutan perasaan dan keterampilan motorik halus jari-jari tangan. Mencuci, sekilas nampak seperti pekerjaan kasar semata. Ternyata di sana tetap dibutuhkan juga latihan kesabaran. Kaos kaki dekil, hanya bisa dibersihkan dengan menguceknya kuat-kuat berkali-kali. Bagian dalam kerah baju dan saku, perlu gosokan pelan namun teliti karena debunya tersembunyi di bagian yang sulit dikucek. Belum lagi saat menjemurnya. Jika asal-asalan merentangkan jemuran, ketika kering baju menjadi kusut. Tetapi jika dijemur dengan rapi, hati-hati, diluruskan serat-serat kainnya, maka baju akan lebih terawat rapi, tak mudah kusut maupun molor. Begitu juga dengan meyeterika, membutuhkan latihan kesabaran yang tak ringan. Untuk bisa menyeterika kerah baju, bahu yang letaknya menyudut, lipatan-lipatan rok yang harus ditata satu demi satu, semuanya tak bisa dikerjakan dengan kasar dan sembarangan dan membutuhkan ketrampilan motorik halus jari-jari tangan pula.
Bagaimana dengan membersihkan kamar, menata buku, atau memasang vas bunga di meja, apakah semuanya pekerjaan remeh? Sama sekali tidak, karena semua ini akan mempertajam kepekaan para gadis terhadap kebersihan dan keindahan rumahnya kelak. Jika terbiasa dengan kamar seperti kapal pecah, lantas siapa yang nantinya berinisiatif memperindah rumahnya kelak? Padahal merawat bunga dalam pot bukan hal yang ringan. Membersihkan debu di sela-sela susunan buku, di sudut-sudut jendela pun butuh ketelatenan. Apakah harus suami yang mengerjakannya? Atau menggantungkan kepada pembantu? Ada pembantu pun tak akan berguna, jika majikannya tak peka terhadap kebersihan dan keindahan rumah.

Persiapkan Gadis-gadis Kita
Walaupun kita merasa sebagai orang modern, jangan sekali-sekali merasa tak perlu mengajarkan ketrampilan-ketrampilan rumah tangga kepada gadis-gadis kita. Apapun kesibukan mereka, latihlah gadis-gadis itu untuk bisa (walau tak harus pandai) memasak, menjahit, mencuci maupun menyeterika. Seperti yang sudah kita bahas, pekerjaan-pekerjaan tersebut turut berperan dalam membentuk karakter feminin dalam kepribadian mereka. Jika gadis-gadis trampil melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut, kepekaan perasaan bisa tetap terjaga, juga kepekaan terhadap kebersihan lingkungan dan tumbuhlah pula cita rasa keindahannya. Kelembutan tangan dan kelincahan motorik halus jari-jari tangan mereka pun tetap terjaga. Dan pada akhirnya, semua itu akan membantu menghaluskan kejiwaan mereka, menumbuhkan kesabaran dan ketelatenannya. Kepribadian yang halus dan lembut seperti ini akan menyeimbangkan kemandirian, kepandaian dan kemampuan rasio yang mereka dapatkan dari sekolah-sekolah formal yang ada.
Di jaman kehidupan Rasulullah, gadis-gadis telah mendapatkan pelajaran mengenai kehidupan berkeluarga sebelum mereka baligh. Sehingga ketika datang saat baligh, mereka telah dewasa dan siap untuk menjalani hidup pernikahan. Apakah terlalu muda? Tidak, karena kepribadian mereka telah cukup matang. Jauh berbeda dengan kepribadian gadis-gadis usia baligh sekarang, yang justru sedang berada dalam masa kritis sebagai remaja yang sedang mencari jati diri. Ini semua gara-gara para orang tua lalai untuk mendewasakan gadis-gadis mereka sebelum baligh.
Karena keadaan memang sudah berbeda, kita pun tak bisa melawan arus dengan mudah. Anak-anak gadis kita tetap harus mengikuti pola perkembangan masyarakat kita, tetapi jangan sekali-sekali lupa untuk tidak memberikan kebutuhan pendidikan kepribadian yang paling mereka butuhkan untuk masa-masa berkeluarganya kelak. Bukankah suami akan lebih sayang jika istri yang memasakkan makanan untuknya?

“dan bekerjalah kamu, maka Allah dan RosulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu dan kamu akan dikembalikan kepada (ALlah) yang maha mengetahui yang ghoib dan yang nyata”

Thursday, September 2, 2010

Revolusi Hijab


12072010
Bus kota yang mengangkut kami dari kota Padang tadi berlalu meninggalkan kami di depan sebuah rumah yang terlihat sederhana namun asri. Aku tergopoh-gopoh membawa barang-barangku yang cukup banyak ke dalam rumah. Disana, kami disambut oleh keluarga penghuni rumah tersebut dengan ramah sekali. Namun, mungkin karena di antara kami berempat juga baru kenal, suasana memang sangat canggung.
Tak lama, mengingat senja semakin berlalu, dan kami belum shalat maghrib, kami pun meminta izin untuk shalat. Uni si pemilik rumah kemudian menunjukkan sebuah kamar tempat aku dan teman sekelompokku yang perempuan akan tempati.
Memasuki kamar, hmm...penerangan yang sangat tidak baik untuk kesehatan mata. Lantai beralaskan tikar plastik yang disambung-sambung. Dinding yang belum di cat.
Aku baru menyadari. Kami -anak KKN di jorongku ini- akan tinggal 1 rumah. Belum lagi laki-laki dewasa yang ada di rumah itu, ada 2 orang. Jilbab, sudah jelas.. tapi memakai kaus kaki sepanjang hari...?? belum kubayangkan sebelumnya.
Dimulailah saat selesai shalat maghrib hari itu.

*
*
Hari kedua KKN saja aku sudah dibuat kaget oleh banyak hal. Pagi itu teman-teman yang cowok mengajak jalan keliling jorong. Namun temanku yang cewek itu tidak memakai jilbab keluar rumah. Ia cuma memakai baju tidurnya. Ini fenomena baru bagiku...; ada anak kuliahan yang tidak memakai jilbab keluar rumah. Oke, aku sering mendengar beberapa orang yang tidak memakai jilbab jika berada dilingkungan rumahnya. Namun kalau disana, kan akan bertemu teman-teman kuliah yang lain, sama aja seperti di kampus. Jadi apa gunanya ia memakai jilbab ke kampus?

Kami berjalan kaki, menyapa setiap orang yang dijumpai. Kami sampai di jorong tetangga. Mampir ke rumah tempat anak KKN jorong tersebut tinggal. Keluarlah salah seorang anak KKN nya yang cewek. JUGA tidak memakai jilbab. Ckckckck...semakin heran aku...

Jujur, setidaknya, aku telah sedikit mewaspadai hal ini. Aku membawa banyak sekali kaus kaki.
dan ternyata, lantai dapurnya termasuk bukan tipe 'lantai kering', jadi agak lembap-lembap gitu.. Namun untungnya, aku juga membawa sandal kain yang buat di rumah. Jadi setiap ke dapur, aku memakainya.
Tapi, yang tetap sulit adalah membuka dan memakai kaus kaki setiap akan masuk dan keluar kamar mandi. Belum lagi jika sedang ada laki-laki di dapur, atau sedang menunggu antrian ke kamar mandi di depan pintu. Ditambah lagi, sebagian mereka tidak mengerti. Sering, setiap aku akan keluar kamar mandi,aku buka pintu sedikit untuk melihat keadaan di luar. Karena aku memakai kaus kakinya di luar kamar mandi, soalnya kalau di dalam kamar mandi jadi basah dong kaus kakinya... Lalu saat aku lihat keluar, ternyata ada laki-laki lagi nunggu di dekat sana, melihat aku membuka pintu. Kemudian aku masuk lagi dan tutup lagi pintunya, berharap dia mengerti dan agak menjauh dari sana. Tapi sewaktu aku buka pintu lagi, ternyata dia masih berdiri disana dan masih melihat ke kamar mandi....aduuhh..... Ini adalah salah satu hal yang membuatku ingin cepat-cepat menyelesaikan KKN.



Banyak juga pertanyaan yang hinggap. Suatu hari seorang adik berumur 5 tahun bertanya,
"Kakak kok pakai kaus kaki terus? dingin ya?"
aku jawab, "iya..."
dia bilang, "buka lah kaus kakinya Kak..." (sambil mengarahkan tangannya ke kakiku, ingin membuka kaus kakiku)
aku menghindar, "eh...jangan...Kakak suka pakai kaus kaki..."

Belum lagi dalam keseharian yang lain. Abang yang tinggal di rumah itu pernah bilang padaku, entah dia bercanda entah serius..
"Nissa bapaham-paham bana gaya Nissa beko awak karajoan Nissa ko. Anak KKN dulu ado nan bantuak Nissa pulo, bajilbab taruih. Awak suruak an jilbabnyo, manangih-nangihnyo."
Indonesian version: “Nissa kalau serius-serius kali nanti saya kerjain. Anak KKN yang dulu juga ada yang seperti Nissa, pakai jilbab terus. Saya sembunyikan jilbabnya, trus dia nangis-nangis”

Aku cuma ngucap mendengar itu..dan timbul ketakutan yang lumayan besar dalam hatiku. Mungkin Abang itu berbicara demikian karena aku tidak mau duduk-duduk di ruang tamu sama yang lain. Pemuda-pemuda jorong lumayan sering main ke rumah itu. Aku tidak mau ikut duduk disana buat ngobrol-ngobrol. Sedangkan temanku yang perempuan mau. Jadi kesannya aku tidak mau sosialisasi. Sejak itu aku agak mencairkan diri. Tetap memakai prinsip, “berbaur tapi tidak melebur”. Aku lebih memilih ini, sebelum ancaman tadi benar-benar diwujudkan.

Namun lama-kelamaan nada pertanyaan-pertanyaan mulai berubah. Seiring dengan ke-konsisten-an yang aku perlihatkan. Suatu hari Nenek di rumah itu pernah bertanya,

“Nissa pesantren dima dulu?”

Aku jawab, “ndak pesantren do Nek..”

Nenek: “apo dulu? MAN? Tsanawiyah?”

Aku jawab: “ndak pernah masuak sekolah agama do Nek..”

Tiba-tiba Uninya datang. “Nissa urang Padang Panjang Mak..urang sinan agamonyo kuek..”

Aku mesem-mesem aja..

Atau sewaktu mandi di sungai. Kami –aku, teman KKN ku yang cewek, beserta adek-adek cewek yang ada disana- pergi ke tempat yang sepi. Hanya sesekali ada orang yang lewat untuk menyeberangi sungai. Aku ikut mandi di sungai, namun tetap memakai jilbab dan memakai rok. Susah..sekali melawan arus karena memakai rok begitu. Namun ya bagaimana lagi..berenang adalah hobiku..makanya aku juga bercita-cita jadi orang kaya agar bisa bikin kolam renang sendiri,,,hhe.... (ngelantur dikit... J )

Sewaktu memakai sampo, aku pakai di dalam jilbab. Adek-adek itu cuma heran melihat tingkahku. Mungkin dalam pikiran mereka,,, “Kak Nissa ni kok begini kali ya...?”

Namun ternyata, lama-lama mereka turut menjaga aku. Pernah waktu itu aku mandi pakai lengan pendek, namun jilbab yang dalam sehingga tanganku bisa ditutupi. Sesaat aku lengah, ternyata ada orang yang lewat, laki-laki. Adek-adek itu langsung bilang “Kak, ada laki-laki Kak...!”

Juga saat akan berganti pakaian, mereka tiba-tiba sudah berdiri mengelilingiku dan membentangkan handuk-handuk mereka yang besar-besar sambung menyambung untuk menutupi aku. Jujur, aku terharu...

Hari kian berganti.. Aku dan adek-adek itu semakin dekat. Sering aku dengar terujar dari mereka begini “Thia nio bana pakai jilbab bantuak Kak Nissa..”

Suatu hari ia bertanya,

28082010

Thia (T) :”Kakak sejak kapan pakai jilbab Kak?”

Aku (A) : “sejak SMP dek...”

T : “langsung kayak gini Kak?”

A : “hmm...waktu SMP tu Kakak pakai jilbab ke sekolah. Terus keluar rumah juga pakai.. Tapi kalau ada tamu ke rumah, Kakak belum pakai... trus waktu SMA Kakak udah pakai jilbab terus kalau ada tamu laki-laki ke rumah. Manset juga udah. Tapi nggak pakai kaus kaki kalau di rumah walau ada non muhrim nya.. Waktu kuliah baru lengap..”

T : (kepada temannya) “tu kan...nggak langsung kayak gini...bisa berangsur-angsur...”

(kepadaku) “Thia mau pakai jilbab Kak, tapi orang sini suka meledek...”

A : “ngapain kata orang dipikirin...coba pikirin apa kata Tuhan...”

T : “tapi kami nggak punya banyak baju lengan panjang Kak...”

A : “pake aja jaket kalau keluar rumah..”

T : “tapi shalat aja kami belum penuh 5 waktu sehari Kak..”

A: “jadikan jilbab itu yang menjaga kita.. Kan malu kalau orang bilang ‘pakai jilbab tapi nggak shalat!’, akhirnya kita jadi shalat. Daripada dosanya double..udah nggak shalat, nggak pakai jilbab lagi..”

Banyak lagi yang jadi kendala bagi mereka..sebisa mungkin berusaha dipatahkan.

29082010

Semalam aku berbuka di Lb. Sikaping. Baru pulang sudah agak larut, hampir semua penghuni rumah sudah tidur. Saat sahur, aku dikejutkan oleh Thia yang sudah memakai jilbab. Senang sekali melihatnya.

Saat subuh, aku mendapat kabar buruk yang menuntut aku agar ke Padang.

Hari itu, aku belum tahu bahwa semua adek-adekku disana sudah memakai jilbab.

30082010

Aku kembali ke Bonjol sore hari. Aku disambut bidadari-bidadari cantik itu, yang sekarang sudah menutup auratnya. Senang..alhamdulillah.. Jujur, lebih membanggakan daripada berhasil melntik dokter-dokter kecil... J

31082010

Perpisahan tiba... mereka semua menangis.. dalam tangis itu, aku meminta mereka berjnji untuk tetap memakai jilbab selamanya. Mereka mengiyakan.. Ya Allah, jaga lah adik-adikku itu...berikanlah keistiqamahan bagi mereka untuk mempertahankan hijabnya. Buatlah mereka menjadi agen-agen baru untuk perubahan di daerah tersebut...ke arah yang lebih baik..


Wednesday, August 25, 2010

Benar-benar Menang

Dulu, ntah tahun berapa aku tak ingat, saat kembali ke Padang setelah hari raya Idul Fitri, muncul di pikiranku yang waktu itu masih seorang anak kecil, "selesai..lebaran selesai. Gitu aja? sekarang balik lagi ke rutinitas seperti biasa. Bosannyaa hidup ini.. tahun depan lebaran lagi, trus seperti biasa lagi,,huh...sampai mati akan seperti ini terus"

Seingatku, (semampu aku mengingat kejadian-kejadian yang ada dalam hidupku), aku belum pernah merasakan lebaran di kota Padang. Walau, aku bisa dibilang tidak pernah beranjak dari kota tersebut. Lahir, tumbuh, sekolah, semuanya di Padang (setidaknya sampai saat ini). Namun, ya, begitu..momen lebaran terlalu 'biasa' untuk dirayakan di Padang bagi orang yang punya kampung seperti aku. Setiap tahun selalu berganti-ganti. Jika tahun ini berlebaran di Padang Panjang, tahun depan mesti di Payakumbuh. begitu terus, ganti-gantian antara kampung Mama dan kampung Papa. Jika shalat 'ied nya dilakukan di Payakumbuh (Suliki lebih tepatnya), sore atau malam harinya kami harus segera berangkat ke Padang Panjang. Pokoknya adil..!

Kedekatan dengan keluarga? Jangan ditanya... Kami termasuk keluarga yang masih menjunjung tinggi adat istiadat Minangkabau. Silaturrahim antar keluarga, walau jika ditelusuri hubungannya ada pada kakeknya nenekku, tetap dijaga. Masalah panggilan juga sangat diatur oleh Mamaku. Tidak ada cerita suami dari Tanteku dari pihak Mama dipanggil 'Om', karena ia adalah 'Bapak', jadi panggilannya 'Pak Etek', walau sebagian orang berpikir akan lebih bagus kedengarannya jika panggilannya 'Om'. Seseorang yang seumuran Abangku pun bisa dipanggil 'Mamak', karena kedudukannya dalam silsilah keluargaku ternyata sejajar dengan Mamaku.

*

*

Lebaran, memang ditunggu-tunggu. Bisa aku sebut, Ramadhan dan Idul Fitri adalah poros kehidupan dalam setiap tahun. Bukan tengah tahun, walau disana ada momen kelulusan SPMB dan aku diterima di FK Unand dan Abangku di ITB. Bukan bulan April, Juli, atau Oktober, walau disana ada event wisuda. Bukan bulan Maret, walau bulan tersebut anniversary-nya Mama-Papa maupun hari pernikahan Uda ku. Bukan.. Seluruh waktu dan tenaga sepanjang tahun tercurah pada satu waktu. Hari kemenangan yang besar setelah sebulan penuh mengalahkan hawa nafsu. Kapan lagi saat berkumpul dengan keluarga besar dengan hati yang riang gembira dan insyaAllah telah berhasil diputihkan? Aku rasa non muslim pun iri melihat kita ummat Islam punya hari tersebut. Kita tidak sekedar menjalani hari-hari seperti biasa, dan tiba-tiba menghias pohon kemudian bersuka cita merayakan hari kelahiran seseorang entah siapa.

Lebaran bukan rutinitas. Selalu ada perasaan yang meluap-luap setiap ia datang. Entah apa yang kau cari dalam hidup jika kautidak bisa merasakan perasaan sejenis itu.


15 hari lagi.

Manfaatkan itu. Jangan kita sia-siakan kesempatan mensucikan diri pada bulan ini. Jangan rela jika hanya ikut-ikutan merayakan idul fitri, tanpa dapat merasakan esensinya.

Untuk yang jauh dari keluarga, pulanglah... Bayangkan senyuman mereka dan senyumanmu yang akan merekah saat bertemu nanti.

Tuesday, July 6, 2010

Batal Menikah

Kali ini aku ingin menceritakan sebuah kisah nyata.

Sebut saja namanya N. Hari itu N masih harus berada di rumah sakit hingga malam hari karena merupakan jadwalnya untuk dinas malam. Di kesempatan dinas kali ini, ia menjadi dekat dengan seorang seniornya yang jarak angkatan mereka sangat jauh (beberapa tahun). Ia merasa cocok dengan Kakak senior itu, karena prinsip yang ia temui pada Kakak tersebut membuatnya lumayan merasa nyaman. Tetap memakai kaus kaki walau memakai sandal di waktu dinas dan jilbab yang selalu terjulur bisa jadi beberapa contoh. Mereka banyak bercerita (kebetulan pasien sore itu lagi sepi), hingga sampailah pada topik berat badan. Kakak yang sangat manis dan keibuan itu mengaku bahwa dulu ia tidaklah gemuk. Berat badannya naik drastis sejak sebuah peristiwa terjadi padanya. Hmm...apa itu? Ternyata ia pernah mengalami yang namanya "batal menikah". N pun menjadi penasaran,,kemudian mengalirlah cerita dari sang Kakak.

Beberapa tahun lalu, mungkin saat Kakak tersebut masih di preklinik, ia pernah menjalani sebuah proses ta'aruf dengan seorang ikhwan. Hingga akhirnya mereka berdua sepakat untuk menikah. Sang ikhwan (sepertinya seorang dokter), saat sudah dekat dengan waktu yang direncanakan untuk menjadi waktu melangsungkan pernikahan mereka, ternyata mendapat tawaran untuk PTT di daerah Aceh. Dan tawaran tersebut berasal dari Ibu sang Kakak yang berusaha mencarikankesempatan PTT untuknya. Ia pun menerima, dengan konsekuensi, mereka harus mengundur rencana mereka di awal.

Jadilah sang ikhwan menjalani PTT di daerah tersebut, bertahun-tahun. Selama itu, ia dan Sang Kakak tetap berhubungan. Mereka berdua yang awalnya bertekad untuk tidak pacaran, menjadi 'seperti berpacaran'. Sang Kakak terkadang juga mengirimkan makanan untuknya yang berada di negeri orang.

Waktu terus berlalu..menanti jawaban dari kisah mereka. Will it be a happy ending, or...?

Komunikasi pun berkurang. Hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk megakhiri hubungan mereka. Hmm...

Tak lama, terdengarlah berita bahwa sang ikhwan akan menikah. Entahlah itu dengan siapa.

Bagaimana dengan si Kakak?

Yap, ia masih disini. Mungkin kompensasi, atau apalah namanya, hal itu memicunya untuk banyak makan ataupun ngemil, sehingga beratnya menjadi bertambah lebih kurang 10kg.

Hufftt......


Hari pun semakin gelap. Sudah wajar sepertinya bagi yang dinas untuk bergantian minta izin pergi makan. Sang Kakak mengajak N untuk pergi makan bareng.

"makan dimana Kak?" tanya N

"belum tahu, kita lihat aja ntar... Kita dijemput." Kata Kakak nya

N setuju. Sambil menunggu jemputan, mereka pun masih sempat mengerjakan keperluan pasien IGD yang tiba-tiba menjadi banyak. Tak lama setelah itu,

"N, jemputannya udah datang, yuk..."

Mereka pun menyelinap dari pandangan para residen yang sedang sibuk untuk pergi makan.

Di luar IGD, sudah menunggu sebuah mobil avanza berwarna silver. Sang Kakak naik di bangku depan, dan N naik di bangku tengah.

Siapa yang menjemput itu?

Hmm...bisa dibilang 'hampir' menjadi pacar sang Kakak.


Mereka pergi makan di tempat yang agak jauh (dasar pato). Di tempat makan, sang Kakak dan si cowok itu duduk bersebelahan, dan N duduk di hadapan mereka, menjadi pengusir nyamuk yang hendak mendekat.

"Kak,,bukannya bertekad nggak pacaran????"

Friday, February 19, 2010

Kisah Syahid dari Iraq yang Jasadnya Dimutilasi

Sebenarnya kisah ini berupa berita yang dipublikasikan di salah satu situs Islam berbahasa Arab terkemuka, namun karena sifat berita yang paling tidak, harus terus diup-date setiap hari sementara kisah ini penting untuk dijadikan pelajaran dan renungan kita, maka kami memuatnya dalam versi kisah islami sehingga dapat ditampilkan untuk beberapa lama.
Sebuah kisah tewasnya seorang anggota kelompok perlawanan Islam, di Iraq (al-Muqaawamah al-Islaamiyyah) yang menunjukkan masih adanya kelompok perlawanan yang benar-benar murni berjuang dan berjihad untuk meninggikan Kalimatullah dan membuka mata kita lebar-lebar betapa dengki dan dendamnya musuh-musuh Islam.

Kisah seorang syahid yang berasal dari Arab Saudi, namanya Sa’id, kelahiran tahun 1975. Ia dijuluki rekan-rekan seperjuangannya dari warga asli Iraq dengan Abu Samrah. Dan sejak itu, ia bangga dan lebih senang dipanggil dengan julukan itu ketimbang nama aslinya.

Sebenarnya, Abu Samrah ini seorang yang hidup berkecukupan di negerinya. Maklum, sebagai warga negara Arab Saudi tentulah kehidupan sosialnya jauh lebih baik daripada saudara-saudaranya di Iraq yang hidup memprihatinkan karena dilanda peperangan dan sekarang ini masih terjajah. Ia ingin memberikan pesan kepada saudara-saudaranya, rakyat Iraq bahwa dien Muhammad adalah amanah yang bukan hanya diembankan ke atas pundak orang-orang Iraq saja tetapi juga ke atas kaum Muslimin selain mereka.

Ia terpanggil untuk berjihad membela agama Allah sekali pun sebelumnya tidak pernah mengikuti latihan militer apa pun yang seyogyanya dimiliki oleh orang yang ingin memasuki medan perang.

Menurut penuturan Syaikh ‘Awad, salah seorang pemimpin kelompok perlawanan, Sa’id menolak untuk bergabung dengan kelompok mana pun di Iraq yang di mata publik Iraq masih mengundang pro dan kontra. Dalam kesehariannya, ia dikenal sebagai seorang yang suka bercanda, banyak menghibur rekan-rekan seperjuangannya, memiliki ghirah yang tinggi dan tak rela kehormatan kaum Muslimin diinjak-injak. Setiap kali ia melihat bangunan dan rumah-rumah yang tinggi di kawasan Ramadi, ia selalu berhasrat untuk naik ke loteng-loteng rumah tersebut lalu dari situ, ia akan menjadi snipper dengan membidik 40 orang Amerika setiap harinya andaikata bukan karena khawatir tentara pendudukan Amerika akan menggeledah rumah-rumah penduduk di situ, melecehkan kehormatan kaum wanitanya dan menerobos masuk ke dalam rumah-rumah mereka. Karena kekhawatirannya itu, ia malah menolak untuk menyerang tentara pendudukan bila mereka masih berada di lorong-lorong dan di jalan-jalan padahal sangat memungkinkan sekali baginya untuk menimbulkan korban yang lebih banyak di pihak tentara pendudukan tersebut. Ia pernah berkata, “Bagi saya, kehormatan wanita-wanita Saudi tidak lebih mahal dari kehormatan wanita-wanita Iraq, sebab mereka semua adalah Muslimat dan semuanya adalah saudara-saudara kita di dalam dienullah.

Syaikh ‘’Awad menuturkan bahwa pada malam sebelum Abu Samrah gugur sebagai syahid, ia betul-betul telah memperlihatkan perjuangan yang tulus dan begitu gagah di medan pertempuran. Karena itu, beliau dan rekan-rekan seperjuangannya begitu yakin bahwa ia akan meninggalkan mereka malam itu untuk selama-lamanya.

Pada malam syahidnya itu, ia bergerak maju padahal tentara pendudukan sudah menarik mundur pasukannya. Ini ia lakukan untuk membuka celah sehingga para mujahidin dapat mematahkan kekuatan musuh secara total di dekat rumah sakit Ramadi, yang letaknya agak jauh dari kota di bagian utara. Ternyata, hari itu adalah hari terakhir ia bertemu dengan para rekan seperjuangannya. Sebuah tembakan mengenai dadanya dan ia pun jatuh tersungkur dengan posisi masih memegang senjata seraya mengucapkan, “Semoga jual beli ini mendapat keuntungan, semoga perjalanan ini mendapat keuntungan. Alhamdulillah, Ya Allah, pertemukanlah aku dengan saudara-saudaraku, Ya Allah, aku titipkan pada-Mu orang-orang yang aku tinggalkan di rumah-rumahku sebab aku hanya keluar demi-Mu, bukan demi siapa-siapa.”

Syaikh ‘Awad menambahkan, “Sekali pun tembakan yang dialaminya cukup parah, tetapi suaranya ketika mengucapkan itu sangat jelas terdengar. Kami menyaksikan dan mendengarkannya hingga saat-saat terakhir ajal menjemputnya, hanya saja tidak dapat mendekat lebih dekat lagi karena tentara pendudukan berhasil naik ke lokasi-lokasi yang tinggi dan mulai menembaki dari sebagai sniper. Untung saja, kami berhasil membawa lari empat orang rekan kami lainnya yang juga gugur sebagai syuhada. Sementara tentara pendudukan itu menyongsong jasadnya yang sudah terlentang dan melakun mutilasi terhadap jasanya lalu melemparnya ke badan jalan. Abu Asmar sang pahlawan turun dari kudanya dengan berjalan kaki setelah datang dari negeri tempat turunnya wahyu. Orang-orang Amerika dan sekutu mereka kemudian memperlakukan jasadnya dengan cara yang belum pernah dilakukan terhadap siapa pun sebelum itu. Ini menjelaskan kepada kita betapa kedengkian orang-orang Amerika terhadapnya.”

Yah, tentara pendudukan itu telah melakukan mutilasi terhadap jasadnya. Berdasarkan penjelasan dan kesaksian salah seorang dokter di rumah sakit umum Ramadi sebelum jasad Abu Samrah dikuburkan, bahwa menemukan jasad seorang warga negara Arab Saudi yang gugur dalam kontak senjata dengan tentara pendudukan seminggu lalu (hari selasa lalu, 08-03-2005), ia mendapati dadanya sudah tersobek menganga, ususnya terburai keluar, beberapa tusukan dalam mengenai lambungnya. Tusukan ini jelas berasal dari mata tombak. Demikian pula, mutilasi juga dilakukan terhadap bagian bawah pusarnya di mana anggota kemaluannya dilobangi dengan cara yang mengenaskan sekali, yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kepalanya juga dipukul dengan tombak dan alat-alat yang terbuat dari besi. Di kepalanya terdapat beberapa bekas bakar akibat letupan moncong senjata api yang ditembakkan ke tubuhnya. Selain itu, terdapat pula tulisan di atas dadanya yang digores dengan menggunakan mata tombak yang tajam. Tulisan tersebut berbahasa inggeris yang artinya kurang lebih ‘Tidak akan ada lagi orang yang berani setelah anda.’

Dokter tersebut mengatakan bahwa ia sudah menjahit perut dan dada jasad Abu Samrah tersebut atas permintaan rekan-rekan seperjuangannya.

Syaikh ‘Awad mengakhiri kisah sang pejuang, “Beliau rahimahullah dikuburkan setelah sebelumnya beberapa potongan anggota badannya yang robek oleh tombak musuh kami kumpulkan terlebih dahulu. Seakan kami menguburkan umat secara keseluruhan. Sa’id masuk dalam rombongan para syuhada. Semoga, mata para pengecut tidak akan pernah terlelap lagi.”

(Sumber: sebuah situs islam berbahasa Arab, tertanggal 14-03-2005)

Friday, February 5, 2010

Zuhud??

Zuhud bisa berarti menghendaki dunia, hati condong kepadanya, dan selalu menoleh ke arahnya, akan tetapi ia berusaha melawan dan mencegahnya. Mungkin itu tingkatan zuhud yang terendah..tapi tak pa pa lah..

Nah, belakangan aku dan teman-teman sering 'menyalahgunakan' kata zuhud ini. Kami menggunakan kata itu untuk setiap 'kesederhanaan' (halah..) yg terjadi.

Contoh, aku memiliki sebuah sepatu berwrna cokelat yang udah lumayan parah kondisinya. Warnanya sudah sangat sangat pudar dan busa bagian dalamnya sudah mencuat keluar. Begitu juga si Ayu, sepatu krem nya yang lama, bagian depannya sudah agak lepas lemnya,,sewaktu dilepas jika ingin masuk sekre (FSKI tercinta) atau mau shalat di masjid, penampakannya benar-benar tergeletak menyedihkan. Kami lalu menyebutnya "sepatu zuhud".

Lalu sepedaku.. Sepedaku adalah sepeda yang keranjangnya paling berkarat diantara sepeda-sepeda anak-anak 06 yang lain (maklum, sering diparkir di garasi yang terbuka, sering terkena hujan, dan rumahku kan di dekat pantai, angin disini lebih kerosif dibanding tempat lain....hhe, ngeles). Lalu itu juga disebut "sepeda zuhud" :D


****

Kemarin aku, Ayu, dan Dian melanglangbuana sampai LA pakai mobil Ayu (ada keperluan mengantar seuatu). Tadi dia bawa mobil lagi..(selama seminggu ini dia menguasai mobilnya). Kami kemana-mana lagi.. Aku easy going aja (iya lah..itung-itung nunggu terik panas mereda karena aku harus pulang pakai sepeda lg). Nah, di perjalanan, kami ngobrol2 ttg perasaan bawa mobil. Ayu bilang, emang enak bawa mobil,, namun itu cm kerasa sekitar beberapa hari sampai satu minggu. Habis itu, perasaanpun akan g enak lg bawa mobil kemana-mana dan bawa sepeda ke kampus seperti hal yang sangat menyenangkan... hmmm,,,we feel d same way Ayu...

Dari sana aku berpikir, mungkin sudah fitrahnya ada setitik keinginan untuk hidup zuhud itu dalam hati setiap manusia..
Seperti Rasulullah, manusia yang benar-benar zuhud. Zuhud bukan berarti meninggalkan kesenangan kehidupan dunia. Hakekat zuhud itu berada di dalam hati, yaitu dengan keluarnya rasa cinta dan ketamakan terhadap dunia dari hati seorang hamba. Ia jadikan dunia (hanya) di tangannya, sementara hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan akhirat.



just intermezzo...peace...!!

PALESTINA TERCINTA






Album: Tak Kenal Henti!
Munsyid: Shoutul Harokah


Untukmu jiwa-jiwa kami
Untukmu darah kami
Untukmu jiwa dan darah kami
Wahai Al-Aqsho tercinta

Untukmu jiwa-jiwa kami
Untukmu darah kami
Untukmu jiwa dan darah kami
Wahai Al-Aqsho tercinta

Kami akan berjuang
Demi kebangkitan Islam
Kami rela berkorban
Demi Islam yang mulia

Untukmu, Palestina tercinta
Kami penuhi panggilanmu
Untukmu, Al-Aqsho yang mulia
Kami kan terus bersamamu

Untukmu, Palestina tercinta
Kami penuhi panggilanmu
Untukmu, Al-Aqsho yang mulia
Kami kan terus bersamamu

A aa aaaa
A aaa aaa
A aaa aaaa a a a aa
A aa aaaa
A aaa aaa
A aaa aaaa a a a aa

Kami akan berjuang
Demi kebangkitan Islam
Kami rela berkorban
Demi Islam yang mulia

Untukmu, Palestina tercinta
Kami penuhi panggilanmu
Untukmu, Al-Aqsho yang mulia
Kami kan terus bersamamu

Untukmu, Palestina tercinta
Kami penuhi panggilanmu
Untukmu, Al-Aqsho yang mulia
Kami kan terus bersamamu

Untukmu jiwa-jiwa kami
Untukmu darah kami
Untukmu jiwa dan darah kami
Wahai Al-Aqsho tercinta

Ya Robbi, izinkanlah kami
Berjihad di Palestinamu
Ya Alloh, masukkanlah kami
Tercatat sebagai syuhadamu

Ya Robbi, izinkanlah kami
Berjihad di Palestinamu
Ya Alloh, masukkanlah kami
Tercatat sebagai syuhadamu
Tercatat sebagai syuhadamu
Tercatat sebagai syuhadamuuu


Saturday, January 30, 2010

BERPISAH

Aku baru tahu bahwa sebuah kelompok itu ada rolling nya. Begitu, katanya keputusan para petinggi kampus. Awalnya aku kira yang diganti-ganti cuma Kakaknya, ternyata aku sampai pada kenyataan bahwa teman-temannya pun harus diganti.

Sedih, sangat. Sekian lama bersama.
Walau pertemuan kami akhir-akhir ini tidak rutin setiap minggu, tapi kebersamaan kami selalu memberi kekuatan yang berbeda setiap kami bertemu bukan dalam lingkaran itu.

Dipecah.
Ada yang masih bersama, ada yang berpisah.
Tak kusangka kenyataan ini datang tiba-tiba, tanpa kami duga sebelumnya.


Namun, kuatkan hati. Ini adalah bagian dari tarbiyah itu sendiri.
Semoga tetap saling menguatkan.