Pages

Thursday, January 28, 2010

Positive Thinking


Namaku Arden. Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian. "Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan" Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?". Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok." Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan coret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan. ...

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.

"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."

"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika kamu pulang".

"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. "

"Kamu selalu pegal-2 pada waktu teman baikmu datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi aneh Dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami hari ini."

"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."

"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".

"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku."

"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. "

"Untuk itu, sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Sayang, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu. "

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya kembali.

"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawabanmu."

"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.".

Saya segera berlari dan membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".







sumber: sebuah group

Wednesday, January 27, 2010

FSKI 2009, Thank You...

FSKI 2009 telah memberiku banyak hal. Baik diriku sebagai bagian dari Biro Kestari, Presidium, juga seorang Emilia Nissa Khairani.
  1. sekre, bukan sekre baru sih..tapi bisa disebut pengkondisiannya yang baru. Banyak inventaris tambahan dari tahun lalu, dan terutama adalah komputer. Sekre jadi rumah kedua bagi aku dan teman-teman seperti Ayu, Silvia, Fristawan, Dian, Resti, dll.. Apalagi sejak dibukanya 'kantin kejujuran' danus di sekre. Dulu karena kuliah masih di GH dan PSIKM, hampir setiap pergantian jam kuliah atau selesai kuliah kami ke sekre. Tapi sejak kuliah di aula (pasca gempa) jadi agak jarang ke sekre
  2. jalan-jalan. Jadi presidium ataupun pengurus FSKI membuatku beberapa kali jalan-jalan, baik lokal, interlokal, maupun SLI,, eh bukan, lokal, antarkota, ataupun antarnegara. Aku serasa sudah dewasa karena tempat hang out aku pada hari Minggu adalah menghadiri walimah seseorang bersama presidium yang lain. Walimahnya ada yang di Padang (walimah dr. Benny Indra), Bukittinggi (Kak Yati), dan Solok (Ni Ul dan Bang Hasdi). Aku juga berkesempatan berangkat ke luar negeri untuk pertama kalinya (meski hanya ke negara jiran, Malaysia), dengan biaya yang aku dan teman-teman perjuangkan sendiri. Aku mengikuti sebuah acara kelas dunia "FIMA International Medical Student Camp" di Langkawi, Malaysia selama satu minggu. Disana aku bertemu teman-teman muslimin-muslimat dari berbagai penjuru dunia. Setelah seminggu disana, aku lalu ke Kuala Lumpur dan berliburan disana selama 5 hari, mengunjungi tempat-tempat indah dan mengasyikkan. Juga di akhir kepengurusan, ada proker KPSDM yang membawa kami jalan-jalan ke Puncak Lawang, Bayur, dan Pantai Tiku. Meski dari sana aku membawa pulang oleh-oleh jari fraktur
  3. sepaket kue, snacks, dan roti hadiah juara 1 lomba minuman segar antar departemen dan biro FSKI dalam acara Cucumber (Kyumpul-kyumpul Bareng)-nya DIA FSKI. Waktu itu kami membuat minuman timun+sirup melon+natadeCoco+selasih. Mungkin biasa aja sepertinya. Tapi aku rasa kami menang dalam hal penyajian untuk juri. Kami memakai gelas tinggi yang pinggir gelasnya ditaburi gula pasir, dan salah satu sisinya diselipkan kurma. Hhe...untung ada kurma yang tersisa di rumah waktu itu...
  4. dojo MusKe' (hho..namanya belum resmi nih), yaitu Dojo Muslimah Kedokteran. Sebenarnya ini adalah club bentukan DIA FSKI untuk memfasilitasi muslimah-muslimah FK yang ingin belajar bela diri. Jadwalnya Senin, Rabu dan Sabtu di lapangan anatomi. Meski gerimis, hujan, kami tetap latihan. Senpainya lucu banget, bisa fleksibel kapan mau serius dan kapan mau bercanda. Osh Senpai!!!
  5. 2 buah notebook (bukan laptop loh..tp benaran notebook, buku catatan). Terhitung aku mengikuti TO Blok nya IMC sebanyak 3 kali di kepengurusan ini. TO pertama yang aku ikuti dimenangkan oleh Vira, dan aku mendapat peringkat ketiga. TO kedua yang aku ikuti adalah TO Blok 19 (Blok Indera Khusus), dan alhamdulillah aku peringkat pertama. TO ketiga yang aku ikuti sewaktu Blok 20 (Blok Kesehatan Keluarga), alhamdulillah juga peringkat pertama. Hadiahnya dua-duanya notebook yang sama. Yang pertama berwarna hijau, dan sudah aku gunakan untuk agenda harianku. Nah, waktu yang kedua, kebetulan Ayu juga peringkat pertama dalam TO Blok 14 (Blok Neuropsikiatri). Kami diberikan hadiah bersamaan. Lalu Ayu memilih salah satu, dan ternyata berwarna hijau, sedangkan yang untukku berwarna merah.. Hho..kebetulan yang bagus..kalo nggak kan punyaku jadi warna hijau dua-duanya..
  6. ilmu, saudara, ukhuwah. Inilah yang terpenting, tak ternilai. Begitu banyak daurah dan majelis-majelis ilmu yang disajikan FSKI. Sepanjang perjalanan ini aku bertemu orang-orang luar biasa, dengan ukhuwah yang juga indah. InsyaAllah, kita akan jaga ukhuwah ini selalu. Uhibukuma fillah ikhwatifillah...

Kini dengarkanlah
dendangan lagu tanda ingatanku...kepadamu teman
agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu

Kenangan bersamamu
Tak kan kulupa walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa.....

Sunday, January 3, 2010

Bingkai Kehidupan (Shoutul Harokah)



Mengarungi samudra kehidupan,
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan,
Tiada masa tuk berpangku tangan

Setiap tetes peluh dan darah,
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka di jalan ﷲﺍ,
Kan menjadi saksi pengorbanan

Allohu ghoyatuna
Ar Rosulu qudwatuna
Al Qur?anu dusturuna
Al Jihadu sabiluna
Al Mautu fi sabilillah, asma amanina

ﷲﺍ adalah tujuan kami,
Rasulullah teladan kami
Alqur?an pedoman hidup kami,
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan ﷲﺍ adalah,
Cita-cita kami tertinggi

Mengarungi samudra kehidupan,
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan,
Tiada masa tuk berpangku tangan

Setiap tetes peluh dan darah,
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka di jalan ﷲﺍ,
Kan menjadi saksi pengorbanan

Allohu ghoyatuna
Ar Rosulu qudwatuna
Al Qur?anu dusturuna
Al Jihadu sabiluna
AlMautu fi sabilillah, asma amanina

ﷲﺍ adalah tujuan kami,
Rasulullah teladan kami
Alqur?an pedoman hidup kami,
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan ﷲﺍ adalah,
Cita-cita kami tertinggi
Cita-cita kami tertinggi

Wednesday, December 30, 2009

Dalam Kegamangan--Semoga Bertahan


‘Keributan’ yang terjadi belakangan ini membuat aku berpikir ulang tentang jalan yang telah aku pilih. Apa aku benar-benar akan disini selamanya, atau hanya saat ini?

Teringat diriku setahun lalu.

Setahun lalu, aku hanyalah seorang biasa. Bukan berarti aku ingin mengatakan bahwa aku yang sekarang adalah orang yang luar biasa, bukan. Aku yang setahun lalu, adalah seseorang yang hidup untuk diriku, keluargaku, dan teman-temanku. Aku larut dalam urusanku sendiri. Tergabung di BEM dan FSKI pun saat itu bertujuan untuk mencari pengalaman berorganisasi dan menambah panjang CVku. Aku yang terus datang ke halaqah hanya karena Kakak dan teman-teman kelompokku tidak bosan mengajakku, dan untungnya teman-temanku disana adalah teman-teman yang setipe dan aku merasa cocok dengan mereka.

Sampai suatu saat, di awal tahun ini, namaku tercantum dalam daftar nama peserta suatu pelatihan. Aku mengikuti technical meetingnya. Disana dibacakan aturan-aturan dan syarat-syarat menjelang dan selama acara. Sangat banyak amalan yaumi yang harus dilakukan. Aku sempat menggerutu dalam hati, “bukan begini caranya untuk mendidik seseorang…!” Ditambah lagi acaranya dilakukan setelah ujian, dan aku juga masih punya banyak tugas di BEM. Kapan aku akan menghafal, mencari, dan membaca buku yang ditugaskan itu?

Tibalah saat acara dilaksanakan. Hari pertama saja, kami langsung dikenai hukuman karena terlambat. Kami tidak boleh mengikuti acara pembukaan. Kami lalu beranjak ke mesjid, mencoba menghafal Assh Shaff dan al ma’tsurat disana. Teman-temanku sudah lumayan hafal. Aku hanya nelangsa memikirkan nasibku tiga hari ke depan.

Setelah shalat ashar, kami dibolehkan masuk lagi mengikuti materi pertama. Materi diisi oleh seorang ikhwan yang sudah sering mengisi daurah di kampus. Namun saat itu ia berbeda. Ia menjadi lebih keras dan lebih kejam (menurut penilaianku saat itu). Ia menyuruh kami semua menutup mata dan bertanya tentang tugas-tugas yang telah diberikan, apakah sudah kami penuhi atau belum. Dan yang belum, langsung dihukum. Begitulah hal yang berjalan 2 hari kedepannya. Penuh dengan hukuman.

Namun apa aku menyesal mengikuti pelatihan tersebut?

Alhamdulillah tidak.. Pelatihan itulah yang telah membuka mataku. Pelatihan itu telah memberi tahuku banyak hal. Aku jadi tahu tentang adanya manhaj dakwah kampus, tentang adanya suatu sistem menakjubkan dalam sebuah syuro, dan yang terpenting, aku jadi tahu tentang impian-impian besar menciptakan dunia ikhwah suatu saat nanti.

Saat itu ghiroh ini muncul. Aku harus menjadi bagian dari mereka, bagian dari orang-orang yang berjuang menciptakan impian besar itu, walau mungkin nanti aku tidak sempat mencicipi saat semua itu terwujud.

.

.

Mengupgrade diri dan iman, mempunyai binaan, menjadi qudwah bagi mereka, menjaga segala tingkah laku dan ucapan...

Pikiran-pikiran lain pun bermunculan. Sampai kapan aku seperti itu? Apa sampai akhir hidupku? Lalu kemana kebebasanku? Dimana akan kuletakkan semua mimpiku untuk menapakkan kaki ini di negara-negara menakjubkan sana?

Entahlah….

Aku jadi teringat sebuah sms yang pernah masuk ke HP ku. Kurang lebih bunyinya begini “perjuangan ini baru akan berhenti dan kita bisa melepas lelah hingga kaki ini menapak di surga”

Walau semua mimpi itu terlihat sangat menggiurkan (dan walau sampai saat ini pun aku belum mendapatkan cara mewujudkannya, aku tetap berharap..), aku tidak mau melepaskan kesempatan ini. Allah pasti punya rencana yang sedemikian indah untuk hamba-hambaNya. Mudah-mudahan…

Terkadang timbul kegamangan, apa mungkin akan bertahan sampai akhir hayatku?? Tak sedikit orang yang kusaksikan berhenti di tengah jalan. Senior-seniorku sering menertawakan hal itu (teman-temannya yang sudah berubah itu). Mereka membahas tentang ikhwan A yang sekarang sudah memakai jeans, padahal dulu sewaktu ghiroh pernah menegur ikhwan lain yang memakai topi karena tidak sesuai dengan sunnah Rasul. Atau akhwat F yang terlihat memakai jilbab dililit-lilit ke leher di foto undangan walimahnya, padahal dulu jilbabnya begitu rapi. Atau akhwat X yang sekarang sudah memakai celana padahal dulu selalu memakai rok kemana-mana.

Mungkinkah aku juga akan gagal?

Mudah-mudahan tidak.

Juga tak sedikit aku saksikan orang-orang yang berhasil bertahan. Apa mereka bosan dengan jalan hidup mereka? InsyaAllah tidak.. Mereka tetap bahagia dalam setiap keterbatasan mereka. Karena mereka yakin, akan ada saatnya nanti dimana mereka akan merasakan nikmatnya berbuka setelah sekian lama berpuasa dari segala bujuk rayu dunia. Ya, dua kenikmatan bagi orang yang berpuasa adalah saat berbuka dan ganjaran yang besar dari Allah.

.

.

Aku menulis ini pun sebenarnya dengan penuh keraguan. Aku takut malah ini yang akan menjadi bukti otentik bagi orang lain untuk menuntutku suatu saat nanti.

Namun, aku berharap, tulisan ini akan jadi pelecut bagi diriku untuk bangkit jika aku sempat terjatuh dan berpikir untuk tidak berdiri lagi di jalan berbatu ini suatu saat nanti.


Friday, December 25, 2009

Ikhlas

...................................
Meninggalkan amal karena manusia adalah riya

Beramal karena manusia adalah syirik

Ikhlas beramal adalah yang selamat dari keduanya

.................................................

(Fudhail bin 'Iyadh)