Monday, March 3, 2014
Ketakutan Itu Ada
suami sempat sedih banget waktu itu dan mengingatkan saya untuk tidak berbicara atau berpikiran seperti dalam tulisan ini lagi. hhe...maafkan saya suamiku.. bagaimanapun, ketakutan itu memang ada. Melahirkan, bagaimanapun proses dan persiapannya, tetap saja termasuk 'bertaruh nyawa'. Apalagi selama hamil entah kenapa sering sekali disuguhkan kejadian-kejadian adverse events dalam dunia medis. Kita ambil contoh aja kasus pasien dr. Ayu di Manado. Alhamdulillah itu tidak kejadian dan sekarang saya masih sehat dan bisa merawat bayi kami yang sangt lucu, Sabda Hanif Alhafidz :)
8 Januari 2014
Usia kehamilan hari ini memasuki 38-39 minggu. Aku sangat menanti-nanti waktu itu. Waktu munculnya nyeri pinggang menjalar ke ari-ari, diikuti keluarnya lendir bercampur darah. Tapi, tak bisa kupungkiri, ada ketakutan dalam diri ini. Takut itulah akhir dari hidupku. Aku bukan takut mati...bukan.. Tapi aku tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan suamiku yang sangat kucintai dan sangat mencintaiku jika aku tidak ada. Dimana dia tinggal? Bagaimana dia mengurus anak kami? Siapa yang akan mengurus keperluan-keperluannya? Siapa yang akan memijit pundaknya saat lelah menyapa? Siapa yang akan membuatkannya bubur kesukaannya jika dia tak enak badan? Ya Allah...aku takut.. Aku tidak bisa meninggalkannya
Dan anak kami. Bagaimana kehidupannya tanpa Umminya yang mendampinginya dalam setiap perkembangan hidupnya?
Allah... Lindungi aku... Lindungi kami... Berikan yang terbaik untuk kami...
Sunday, November 17, 2013
Diary Umroh 3: Ziarah Madinah
Tujuan pertama adalah Masjid Quba. Masjid pertama yang didirikan Rasulullah, saat beliau berhijrah dari Makkah ke Madinah. Dalam perjalanan kesana, kami melewati sebuah tempat yang dari kejauhan hanya terlihat seperti tanah lapang yang dikelilingi pagar tembok. Muthawwif kemudian menjelaskan, itu adalah makam Baqi, tempat pekuburan warga Madinah termasuk jamaah haji dan umroh yang meninggal saat di berada di Madinah. Disana juga dikuburkan para istri Rasul (kecuali Siti Khadijah dan Maimunah), para sahabat, dan ribuan syuhada'. Banyak jamaah haji dan umroh berharap bisa dikuburkan disana, dikarenakan kemuliaannya.
rindu
hingga terasa sesak di dada
panas di pelupuk mata,
dan disusul lelehan kristal yg mengalir deras?
Wednesday, March 6, 2013
Diary Umroh 2: Masjid Nabawi
![]() |
| Masjid Nabawi sore hari |
Semua bagian masjidnya bersih. Kita bisa shalat dimana saja. Dan kata orang, apapun yang berasal dari tanah haram ini suci. Tapi aku gak tahu pasti, belum pernah dengar dalil nya.
Aku, Mama, Buk Asnah beserta mak Andung menuju Female Area. Mak Andung tetap menggunakan kursi roda. Di pintu masuk, kami diperiksa dulu oleh polisi masjid. Mereka semua memakai burqa berwarna hitam. Hanya menyisakan segaris di bagian mata saja bagian tubuhnya yang bisa dilihat. Kami harus memperlihatkan isi tas dulu sebelum memasuki masjid.
| Air zamzam di dalam masjid, bebas diminum sepuasnya |
Begitu memasuki masjid, aku disambut pemandangan baru. Ada berpuluh-puluh benda sejenis tangki dibariskan di dalam sana. Seperti galon, tapi terbuat dari logam. Aku tebak itu adalah tempat-tempat air zamzam. Dan benar saja, memang semuanya berisi air zamzam.
Kami terus berjalan ke depan. Saf nya dibatasi pita plastik seperti garis polisi. Jadi kami tidak boleh membuat saf di luar garis itu. Tapi pembatas itu bisa digeser jika jamaah di dalamnya sudah penuh (yang hanya boleh dilakukan polisi masjid), agar bisa masuk yang baru. Jadi tujuannya hanya agar kita memadatkan dulu saf yang di dalam pembatas.
Bahasa Indonesia
![]() |
| Petunjuk di hijab masjid yang menggunakan beberapa bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, tanpa Bahasa Inggris |
Ya, mereka langsung mengenali warga negara Indonesia dari pakaian shalat mereka. Sejauh mata memandang, memang hanya muslimah Indonesia yang menggunakan mukenah, dan beberapa warga negara Malaysia. Konon jamaah Indonesia adalah jamaah terbesar setiap tahunnya :D
Aneka Ragam Cara Ibadah
Disana, di bumi Nabi ini, muslim dari berbagai negara berkumpul. Mulai dari bahasa, ras, pakaian, dan termasuk cara-cara beribadah mereka berbeda-beda.
Aku kaget dan bertanya-tanya saat seorang, yang aku tidak tahu dia warga negara mana, sepertinya masih timur tengah, shalat sambil menggendong anaknya yang masih balita. Dia shalat di sampingku, dan saat anaknya menangis, dia mengguncang-guncang gendongannya untuk menenangkan anaknya, padahal sedang shalat!
Sebagian mereka shalat dengan pakaian sehari-hari mereka saja, yang biasanya berupa jubah. Namun tidak sedikit yang shalat tanpa menggunakan kaus kaki, ataupun kerudung yang tidak menutupi seluruh kepala mereka sehingga tampaklah rambutnya di bagian depan. Apakah hal-hal itu tidak termasuk aurat bagi mereka?
Ada juga yang shalat yang dengan sengaja sebelumnya mengembangkan halaman alqur'an yang diinginkannya di tempat sujudnya. Lalu kemudian dia shalat sunnat lamaaaa sekali sambil membaca ayat-ayat di alqur'an yang diletakkannya di sajadah itu.
Masih banyak lagi, mungkin dalam kesempatan lain insyaAllah aku jabarkan lagi mengenai ini :)
Masjid siang hari
![]() |
| Payung-payung masjid sudah dikembangkan |
Ini juga merupakan hal yang membuat aku takjub. Seberapapun panasnya cuaca, lantai masjid tetap terasa sejuk. Walau kita menginjakkan di bagian yang tidak tertutupi payung. Dan hal ini juga terjadi pada lantai-lantai Masjidil Haram.
Apakah mungkin karena kedatanganku kesana sedang dalam musim dingin? Tidak. Aku bertanya pada Mama, sewaktu beliau haji dulu, cuaca sungguh luar biasa panas, pernah mencapai 540C. Kita gak akan sanggup menginjakkan kaki di jalan tanpa alas kaki. Tapi begitu kita sampai di teras masjid, baik Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram, lantainya tidak pernah terasa panas. Meski kepala kita masih terasa panas. Entahlah apakah karena bahan marmernya yang sangat bagus aku tidak tahu. Aku hanya menganggap ini salah satu anugerah Allah bagi orang-orang yang beribadah disana :)
عن أبي سعيد الخذري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَا بَيْنَ قَبْرِي وَمِنْبَرِي هَذَا رَوْضَةٌ
“Dari Abi Sa’id al-Khurdri ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Tempat di antara kubur dan mimbarku ini adalah Raudhah (kebun) di antara beberapa kebun surga”. (Musnad Ahmad bin Hanbal)Ada bagian dari Masjid Nabawi yang merupakan salah satu tempat paling mustajab berdoa. Itulah Raudhah. Ia berada di antara maqam Rasulullah dan mimbarnya. Jika karpet Masjid Nabawi biasanya berwarna merah, disini ditandai dengan karpet yang berwarna hijau, dan juga ada kubah berwarna hijau di bagian atasnya. Jika kita sudah sampai pada karpet hijau itu, berarti kita sudah berada di raudhah, dan dianjurkan untuk shalat sunnat dan berdoa disana.
Kata Mama, dulu raudhah ini bisa didatangi kapan saja oleh jamaah. Namun sekarang, karena perluasan masjid, raudhah ini menjadi bagian dari tempat shalat laki-laki. Hanya dibuka untuk perempuan di jam-jam tertentu, yaitu jam 09.00-11.00 dan 13.00-15.00 setiap harinya. Beruntunglah para lelaki..
Tempat ini selalu penuh sesak. Waktu itu alhamdulillah aku bisa kesana, alhamdulillah..setelah antri selama lebih kurang 2 jam. Saat shalat disana jangan heran kalau kepala kita dilangkahi sewaktu sujud, atau bahkan tertendang oleh orang yang lalu lalang. Karena itu tadi, selalu penuh sesak. Polisi masjidnya selalu siaga mengusir orang-orang supaya tidak terlalu lama disana, agar bisa bergantian dengan orang berikutnya.
Keamanan disini diperketat. Tidak diizinkan membawa kamera maupun handphone berkamera. Tapi itu hanya berlaku bagi perempuan. Aku heran awalnya kenapa larangan itu hanya berlaku bagi perempuan. Namun setelah aku pikir-pikir, mungkin ini bertujuan menjaga izzah para wanita. Contohnya, tidak sedikit disana para 'cadarer' yang membuka cadarnya di dalam masjid. Nah tentu mereka tidak mau wajah yang selalu berusaha mereka tutupi bisa beredar melalui potret-potret tidak sengaja dari orang lain.
Itulah Masjid Nabawi. Keren. Subhanallah. Keren!
Itu hanya sedikit hal yang bisa aku gambarkan. Begitu banyak isi hati ini yang meluap-luap setiap mengingat Masjid yang indah itu, namun mungkin tak tertuang di tulisan di atas.
Sungguh, aku ingin kembali kesana!
Friday, March 1, 2013
Diary Umroh 1 : Arrival
![]() |
| pemandangan dari kamar hotel - Masjid Nabawi |
Tuesday, February 14, 2012
Gelar Itu Resmi Sudah.... :)
Sunday, March 20, 2011
Facts: Banyak Ikhwah Tidak Disenangi dalam Pergaulan?
Nah, saya juga sependapat dengan argumen-argumen yang mengatakan, itu oknum, jangan digeneralisasi! atau memangnya kenapa? toh, mereka bukan malaikat, pasti ada salah juga..
Tapi, tolong lah..penampilanmu tetap berbeda dibandingkan orang-orang lain itu (terutama untuk para akhwat). Saat orang-orang melihatmu, akan segera tergambar atau 'terharap' dalam hati bahwa kamu seharusnya begini, seharusnya begitu.
Namun sekarang, saya tidak berlebihan bila menyebutkan, bahwa imej yang tergambar dalam pikiran banyak orang saat pertama melihatmu adalah 'orang-orang seperti ini menyebalkan'. mungkin ini akibat orang-orag sebelum kamu yang berbuat hal tidak mengenakkan jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi, bagaimana tidak,,senyum tidak, bicara ketus, menyuruh-nyuruh dengan bossy.. Memang, hal ini banyak juga dilakukan oleh orang lain..tapi amanah yang kamu pikul lebih besar daripada mereka.. kamu harus mempertanggungjawabkan setiap kata-kata ataupun perbuatan yang kamu lakukan terhadap apa yang dipikirkan orang tentangmu.
Saya punya cerita, dulu..
teman-teman saya punya gelar untuk seseorang yang 'berpenampilan akhwat' di tempat kami. Mereka menyebutnya nenek lampir. Saya heran, bagaimana bisa sampai seperti itu. Saya bertanya, memangnya kenapa? Lalu mereka menceritakan pengalaman apa yang mereka alami bersama sang akhwat.
Waktu itu mereka melaporkan tentang sesuatu (maaf, lebih baik disamarkan). Mereka mungkin melakukan kesalahan (wajarlah, kami disana memang untuk belajar, kalau tidak berbuat salah dan sudah pintar, buat apa lagi kami disana?) Lalu, si akhwat tadi mengomentari dengan kata-kata yang sangat tidak pantas dikeluarkannya. "masak lebih panjang tangan dari kaki, emangnya dia anak monyet?" dan kata 'anak monyet' itu diucapkannya berkali-kali dengan maksud mengejek kesalahan yang diperbuat teman saya. Saya, sebisa mungkin dimanapun, kapanpun, jika saya bisa akan berusaha menjaga nama baik ikhwah. Namun, saat itu jujur saya tidak tahu harus berkata apa.
Belum lagi yang saya alami sendiri. Dicuekin sewaktu senyum kepada seorang senior akhwat, padahal saya haqqul yakin beliau melihat saya. Yah, mungkin beliau sedang banyak masalah, pikirannya sedang menerawang kemana-mana. Lalu ada lagi, senior lagi, ikhwan, beliau mengadukan kesalahan yang diperbuat juniornya kepada ketuanya, padahal si senior itu tahu bahwa hal itu bisa sangat megancam kelulusan juniornya itu. Menurut saya, apa salahnya ia bilang secara baik-baik ke juniornya itu? Ia ingatkan dulu, kalau masih bandel baru dilaporkan.. Dan belakangan saya tahu, bahwa si junior itu sedang sakit, makanya terhambat melaksanakan tugasnya dengan baik, bukan dia nya yang malas..nah kan...!
Dulu, sewaktu akan masuk dunia klinik..saya banyak mendapat cerita dari senior-senior akhwat tentang beratnya mencuri-curi waktu untuk Liqo' saat di per-koas-an. Dan banyak yang menceritakan, dengan bangga, bahwa mereka terkadang harus menghilang saat jam dinas untuk memenuhi agenda wajib itu.
Hmm...tejadi pertentangan dalam hati saya. Saya kurang suka, jujur..entah iman di hati yang sedang pudar sehingga berpikiran seperti itu, atau entah kenapa.
Saya pernah mencobanya dulu. Dan apa yang saya rasakan? Sangat sangat tidak tenang. Saya adalah tipe orang yang takut sekali meninggalkan dinas, meski untuk agenda syar'i seperti itu. Saya titip pesan kepada seorang teman yang 'mengerti', lalu pergi. Memang waktu itu sedang tidak ada pasien, tapi tetap saja... Saat sekitar 1 jam kemudian saya kembali, saya rasakan pandangan teman-teman yang setim dinas dengan saya itu agak berbeda. Saya yakin itu bukan hanya perasaan saya saja.
Saya menemukan Kakak yang ternyata sependapat dengan saya. Dia tidak setuju tentang Liqo' di jam dinas. Ia pernah dinas bersama seorang teman akhwat lainnya, dan total koas yang dinas saat itu ada berempat. Temannya yang akhwat itu berbisik padanya, mengatakan bahwa ia mau pergi sebentar, buat Liqo'. Lalu dia menjawab, "kamu bisa jaga hati aku, tapi apa kamu bisa menjaga hati 2 orang teman kita itu?"
Ya,Kakak itu benar. Apa kita bisa menjamin bahwa orangg tidak akan berpikiran buruk tentang kita sedangkan mereka tidak paham?
Banyak lagi aku dengar si A pato, si B pato, karena mereka sering menghilang saat dinas. Mereka meghilang memang karena alasan syar'i, mereka tidak melalaikan tanggung jawab mereka, tapi apa orang lain tahu? apa orang lain bisa diberi tahu?
Banyak yang juga suka menghilang saat dinas tapi dianggap biasa aja oleh orang-orang.. Yah, biarlah itu urusan mereka.. kembali lagi, kamu mengemban tanggung jawab lebih dari orang-orang itu.
Banyak sekali aku mendengar hal lainnya. Apakah dalam bertutur kata, dalam menjalankan prinsipnya 'yang penting yang saya lakukan benar' dan dia tidak mempedulikan cara yang ia pilih dan bagaimana pandangan orang terhadapnya, dalam belajar, dalam ujian, dalam diskusi, dan lain-lain..
mungkin termasuk saya. Mungkin di luar sana juga ada segerombolan orang, atau bergerombol-gerombol orang yang sedang membicarakan ketidaksukaan mereka terhadap saya. Wallahualam..
Apa akibatnya?
Mungkin, lama kelamaan kita akan semakin susah diterima orang. Dibilang munafik? jangan heran..
Lalu, kapan akan berdakwah? sedangkan mengusahakan penerimaan diri saja tidak bisa? Bagaimana akan mengusahakan penerimaan kebaika-kebaikan yang ingin disampaikan?
Bahkan, ada yang rela mengubah penampilannya dari yang dulunya sangat berhijab menjadi agak 'melebur' demi berharap penerimaan di kalangan umum. Jangan salahkan ia, namun jangan juga benarkan.
Mari kita introspeksi..Perbaikan apa yang bisa kita lakukan untuk semua ini..
Dunia ini keras kawan...jangan berharap lingkungan kita bisa 'dikondisikan' menjadi optimal seperti kita kecil dulu, atau seperti kita di kampus dulu...
Saturday, February 19, 2011
Megenal Dunia Klinik
4 siklus besar itu adalah: Pediatri (anak), Bedah, Interne (Ilmu Penyakit Dalam), dan Obgyn (Kebidanan). Sedangkan 9 siklus lagi adalah anestesi, forensik, radiologi, PH (public health), mata, THT, Kulit, Jiwa, dan Neurologi.
Kalau dulu (dengar-dengar dari orang dulu), kita wajib mengikuti 4 siklus besar dulu baru kemudian memasuki siklus kecil satu per satu. Hal ini mungkin dikarenakan di siklus besar itu cakupan ilmunya sangat-sangat luas..hampir mencakup seluruh sistem. Sehingga nanti saat sudah memasuki siklus kecil (yang lebih spesifik), kita tidak akan canggung lagi karena paling tidak sudah mengerti sistem-sistem lainnya.
Nah, sekarang,...berhubung mahasiswa kedokteran SANGAT banyak...sistem pun tidak dibuat seperti itu lagi. Kita bisa memulai dunia klinik di siklus mana saja. Sebagai akibatnya, kita seperti selalu 'dituntut' untuk hal-hal yang bukan kesalahan kita. Seperti saat teman saya masuk pertama kali di neurologi, para konsulennya menanyakan siapa-siapa saja yang belum melewati siklus interne. Yah, jelas lah mereka belum. Dan saat itu beredar bahwa teman-temanku terancam akan memasuki siklus neuroLagi. huh....padahal kan bukan salah mereka....
Kita juga mengenal sisiak..
Apa itu sisiak? Sisiak is, sesuatu yang abstrak, yang kasat mata, merasuki jiwa seseorang dan akan menjadi hal paling dominan yang akan mempengaruhi nasibnya di dunia perkoasan.
Ada orang-orang yang bersisiak tebal, berskuama kasar...seberapapun rajinnya ia, sefisiologis apapun ia..kita akan kasihan melihatnya.
Ada juga orang-orang yang memang ditakdirkan bersisiak emas. Kita akan menggeleng-gelengkan keppala melihat betapa beruntungnya ia.
Dan, ada juga orang yang tergolong taksonomi tingkat tinggi. Ia memiliki vertebrae. Mungkin ia anak konsulen, sehingga ia akan diperhatikan semua residen maupun perawat. Tak perlu berjuangpun,nasibnya sudah tergambar. Mungkin juga ia kenal baik dengan konsulennya, residennya,dll.. sehingga akan banyak kemudahan-kemudahan yang ia dapatkan.
Banyak istilah-istilah yang beredar....tapi saya tidak terlalu gaul, jadi gak terlalu mengenal.....
Kapan-kapan disambung ya...karena saya sekarang lagi dinas di anak....siklus besar terberat nih kabarnya....
to be continued in Mengenal Dunia Klinik part 2
Friday, January 14, 2011
Menjiwa dengan Pasien
Siklus ini unik. Setiap ada laporan kasus, bagian paling menarik untuk dibaca adalah bagian autoanamnesa dengan pasien. Ini adalah salah satu autoanamnesa yang paling menarik selama aku disini. Check it out...!
*nama bukan nama sebenarnya
PERTANYAAN | JAWABAN |
Selamat siang Uda, siapa namanya? | Ryan, Ilham, Chaidir |
Ryan, Ilham, dan Chaidir? | Tidak ada dan. Saya tidak suka |
Ok, Ryan bagaimana keadaannya sekarang? | Begini sekarang. Tembil. |
Apa itu tembil? | Suatu bentuk yang saya bentuk, itulah tembil. |
Udah makan? Makan berapa kali? | Sudah. 2 kali |
Bisa tidur semalam? | Bisa. Enak saya tidur dengan halusinasi. |
Apa itu halusinasi? | Sebuah formasi |
Ryan pernah lihat bayang-bayang? | Pernah |
Apa itu? | Lia Eden, dia pengikutku. Dia tidak sesat tapi yang ikut bisa sesat. |
Dimana Ryan lihat? | Tadi masih lihat. Dia di ruang sebelah sini. Dia di penjara |
Dia bicara apa ke Ryan? | Dia suruh aku keluarkan dia |
Dia harum tidak? | Gak, dia adalah tidak nyata tapi suatu yang wangi |
Pernah dia memegang Ryan? | Tidak |
Sejak kapan Ryan lihat Lia Eden itu sambil bicara pada Ryan? | Sudah 1 tahun |
Ryan asli mana? | Lubuk |
Lubuk mana? Lubuk Alung? | Tidak ada alung. Alung sudah pergi. Pergi dengan cinta. Cinta adalah sebuah bentuk, pemahaman, suatu formasi yang dibentuk. |
Ryan senang disini? | Gak, saya butuh kesini tapi tidak senang kesini |
Kenapa butuh kesini? | Karena ada yang rindu |
Siapa itu? | Pak Hotman, dia itu ayah saya |
Ryan pernah dengar orang-orang memburukkan Ryan? | Iya, mereka mengatakannya, tapi ku tidak percaya begitu saja |
Siapa saja yang bilang? | Ramai orang bilang |
Ryan tahu sekarang dimana? | Tau, ini rumah sakit dan aku yang mengganti nama rumah sakit ini menjadi HB Saanin |
Kemarin dengan siapa kesini? | Sama uni Suhaida |
Sudah berapa lama Ryan disini? | Sudah lama, sejak bulan November |
Menurut Ryan sekarang siang atau malam? | Siang, suatu bentuk dari fatamor dan jadilah siang hari |
Ryan pantas tidak berada disini? | Gak, aku tidak gila. Keluargaku janji aku hanya akan disiniselama 23 hari. Ini sudah bulan Januari. Sudah lebih 1 bulan aku disini.Sudah lebih dari 23 hari |
Kalau pulang nanti Ryan mau ngapain? | Aku mau fokus ke Sugai Tarap saja. Ibuku bilang aku akan dikasih modal buat mini market. Aku mau di tempat hitung-hitung uang. Aku lupa apa namanya ya? |
Kasir? | Iya, itu dia, Nanti kan tet, tet, tet, nanti keluar uangnya. |
Ryan di rumah sama siapa aja? | Ibu, kakak 2. Di rumah ada si Ferdian. Dia suruh ibuku menyembunyikan harta adahal aku minta motor ninja tapi gara-gara dia ibu menyembunyikan hartanya dan pura-pura miskin. |
Oy benci dengan Ferdian? | Tidak, kenapa harus benci? Aku punya ilmu putih. Ferdian tidak. Ferdian ingin mengambilnya dari aku. |
Ilmu putih itu apa? | Ilmu Muhammad. Aku adalah Muhammad. Sebenarnya aku tidak suka Muhammad selalu dipuji-puji karena aku lah yang melakukan kebaikannya. |
Ryan pernah pakai ganja? | Pernah |
Kapan? | Dari kelas 2 SMP |
Terakhir? | Tahun kemarin. Aku sudah tidak mau pakai lagi. Aku sudah merasakan merana pakai ganja. |
Merana bagaimana? | Aku berdosa pada Ibu karena pakai ganja. |
Oh begitu. Baiklah Ryan, sudah sore, besok-besok kita sambung lagi. Ryan sudah mandi belum? | Hahaha, tidaklah, saya tidak suka mandi. Mandi supaya tidak bau. Saya kan tidak bau. Untuk apa saya mandi. Saya mandi 2 minggu lagi saja. |
Sunday, January 2, 2011
nothing
The days would all be empty
The nights would seem so long
With you I see forever oh so clearly
I might have been in love before
But it never felt this strong
Our dreams are young
And we both know they'll take us
Where we want to go
Hold me now
Touch me now
I don't want to live without you
Nothing's gonna change my love for you
You ought to know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
Friday, November 12, 2010
Aku Makin Seperti Mama? #1
cuma koleksi, kata beliau.. kalau Mama ke luar kota..Mama suka bertandang ke pasar-pasar tradisionalnya, bahkan ke pasar-pasar barang second. Disana biasanya ia menemukan barang-barang itu.
Dulu aku cuma geleg-geleng lihat kebiasaan Mama yang satu itu..
eh..sekarang...
hobi kami jadi sama
aku juga jadi suka lihat barang-barang sejenis itu..karena belum punya uang, aku baru sebatas 'suka lihat'..belum bisa beli-beli..Kalau Mama beli barang-barang itu, g ada lag protes-protes keluar dari mulutku..
Sekarang, kalau ke supermarket atau ke pusat perbelanjaan mana aja, pojok rak-rak yang aku suka adalah rak-rak tempat barang-barang dapur.. Jadi suka lihat panci, penggorengan,,mangkuk-mangkuk lucu..mug-mug unik, sendok, dll....menarik b(^_^)d
Monday, October 25, 2010
Tidak Ada Rasa=An-Estesi?
Koas--koeh--dokter muda
welcome back!!
nggak tanggung-tanggung, setelah tubuh ini agak terbiasa dengan kebebasan tanpa keterikatan, aku ditempatkan di siklus anestesi. Penempatannya memang jadi aneh. Karena, kalau ikut alur yang seharusnya (kayak emang ada alur siklus resminya aja), setelah siklus bedah kemarin aku akan masuk siklus PH (public health) atau Mata. Yah, bukan berarti aku mau santai-santai atau apa, tapi paling nggak di dua siklus itu nggak ada dinasnya. Juga, aku kan mau ikut Antibiotic 6....huhuhu
Hari pertama, kami sudah berkumpul di lantai 3 Instalasi Bedah Sentral pukul 07.30. Hmmm...harusnya pengalaman 2 siklus sebelumnya sedikit mengajarkanku..bahwa hari pertama ini nggak ngapa-ngapain, cuma nunggu sampaai kira-kira jam 11-an. Tapi tak pa-pa lah. Itung-itung kumpul-kumpul sama teman-teman karena udah lama nggak ketemu. Cerita kami sudah melebar kemana-mana, tapi masiiih belum juga. Trus, nggak lama kemudian, ada kabar bahwa kami yang ber-40 di siklus kecil ini nggak diterima semuanya. Harus ada yang cuti dulu, dan caranya dengan lotting nama. Teman-teman pada nggak mau cuti, alasan mereka "bilo ka tamat lai..",,,atau "ndak nio do, ambo alah gaek".....atau, "ndak do, siklus patamo ambo alah maulang pulo"
Aku waktu itu...deEp inSiDe My hEArt....mau aja cuti. Selain mood buat koas yang belum balik, aku juga mau fokus ke Antibiotic, dan mau hadir. Tapi ternyata, kabarnya ada perundingan antar konsulen-konsulen di dalam sana, dan akhirnya setuju menerima kami semua. Hufft...bagaimanapun, alhamdulillah....
Ada orientasi dulu. Kami dibekali apa-apa aja yang harus dilakuin di anestesi, ada pembagian baju anestesi dengan jaminan uang 100 ribu rupiah, trus juga pembagian log book. Aku rencananya waktu itu nggak ngambil baju anestesi itu, cuma mau pakai baju OK yang merah, karena dibilang si Ibuk yang ngurusin baju, bajunya itu nggak cukup buat 40 orang. Tapi pas di akhir, aku lihat baju-bajunya berlebih. Aku lihat, ukurannya XXL..gede banget! mau ah... dan akhirnya aku ambil... :)
kelompok pun dibagi. Aku dapat jadwal dinas pertama hari Rabu. Namun waktu itu, seorang temanku, Resti, yang dijadwalkan dinas hari Senin itu, punya sebuah agenda syar'i yang harus dihadiri. Jadilah aku menggantikannya... lagi-lagi aku dinas di hari pertama...ckckckck
Dinas pertama, dapat di OK IGD. Asli, MELELAHKAN! ampun.... bakat 'pembawa pasien' ku masih kuat...huh huh
hmm...hijab
pertama, hijab diri
hari pertama dinas itu, aku masih memakai kaus kaki, dan jilbab yang dalam (plus yang tadi, baju OK yang super gede). Trus pas mau subuhnya, seorang Ibu perawat, yang jilbabnya juga terjulur, mengingatkan. Kata beliau, di OK Sentral jangan pake kayak gitu, ntar dipermasalahin beberapa konsulen yang sensitif terhadap masalah itu..
hmm..baiklah Bu..saya mengerti. Saya sudah banyak mendengar setiap masuk OK sewaktu di THT dan Bedah.
Besoknya, 2 orang temanku, Rani dan Resti,memakai jilbab yang sangat dalam ke OK Sentral. Juga kaus kaki. Aku? aku memakai jilbab yang dari kampus, masih bisa kuusahakan menutup dada.
Trus, nggak lama, ada perawat yang ngomong sama Rani
"itu jilbabnya bawa dari luar ya? kok nggak jilbab OK yang dipakai?" (jilbabnya warna ungu kok..sama dengan warna bajunya..tapi ada hiasan kancing-kancing gitu..dan itu nggak diperbolehkan.
"Maaf Uni, baru jilbab ini yang ada..bajunya baru dapat kemarin.."
"nggak boleh ya, kayak gitu.. kan kamu bisa pakai topi.."
????!!??!!
Habis itu, ada juga seorang Uda, residen THT yang menasihatinya. Aku dengar waktu itu. Aku tau, Uda itu seorangg yang bagus agamanya (insyaAllah). Kata beliau, jangan pakai kayak gitu lagi..dulu masalah ini sempat meledak,dan beberapa konsulen marah-marah. Sekarang sudah mereda, jangan sampai masalah jilbab itu muncul lagi..
Aku ngomong sama Rani..lebih baik dia di ruang ganti aja sampai selesai, mumpung dia nggak ada OK. Dia setuju, sekalian mau nyelesaiin laporan KKN katanya. Dan besoknya, aku diceritain Rani bahwa dia ketemu Ni Fit, residen THT, dan dia cerita soal itu. Uni cuma tersenyum, bilang "kita turuti aja sekarang dulu. Uni dulu awalnya juga bersikeras, sampai-sampai Uni disidang. Paling nggak sekarang udah lebih baik"
hmm...masih minoritas.
Mudah-mudahan, suatu hari nanti dibolehkan
kedua, hijab lawan jenis
dinas berarti 24 jam bersama tim dinas. Ada cowok ada cewek. Beruntung kalau dapat tim yang cewek semua. Kalau nggak, siap-siaplah untuk 'berbaur' sangat 'akrab'. Tidur di 'gua hira' anestesi, digabung aja cowok-ceweknya. Mungkin karena udah kecapean banget, nggak dipikirin lagi hal-hal lainnya. Cuma, aku merasa siklus ini agak beda, agak lebih baik. Dulu, waktu aku di bedah, aku lihat anak-anak anestesinya emang tidur demppet-dempetan gitu cewek dan cowokya. Mungkin karena space yang sangat kurang..ckckck
tidur, sebisa mungkin ditupi..pake mukenah, kain sarung, atau pake baju dinas
anestesi dibilang nggak ada rasa kayaknya nggak tepat juga.
ada banyak rasa disini
ngantuk berat setiap habis dinas
sedih sewaktu dihukum dinas 2 hari berturut-turut
deg-degan setiap mau lapor preop ke konsulen
haru melihat gigihnya Ayah pasien ICU bolak-balik ngambil obat
senang sewaktu berhasil melakukan intubasi pertama ke pasien
sesak dan nggak bisa nahan tangis waktu ada pasien yang udah dirawat seminggu dengan ventilator akhirnya meninggal
sebel waktu didesak-desak residen bedah
kaget sewaktu keluar hasil lotting nama pengujiku
dan sekarang, Senin, 25 Oktober 2010, pukul 04.08 di ICU, aku masih dinas di ICU. Cuma ada 2 pasien, dan dua-duanya stabil. Semoga mereka sembuh.
Nanti pagi aku melanjutkan ke Interne. Jilbab putihku udah kusiapkan. Semoga aku nggak balik lagi ke anestesi ini sebagai koas--koeh--atau dokter muda. Kalau waktu udah jadi dokter, boleh lah kesini lagi... ^_^
bismillah, my next destination is waiting for me
Sunday, October 24, 2010
Thursday, September 16, 2010
Ifthor Jama'i BSMI Cab. Padang, Ramadhan 1431 H
Dimulailah persiapan-persiapan...
Sang PJ meminta jasa seorang relawan yang tak diragukan kemampuannya dalam hal ini untuk membuat undangan. Pake denah segala... Denah yang tadinya kayak gambar anak TK disulap menjadi bagus sekali. Hingga terbitlah undangan yang ditunggu-tunggu,

awalnya disepakati bahwa undangan yang dipublish di fb itu (sekali lagi, demi menghemat dana, undangannya tidak dicetak), akan dibikin 'private'. Hanya bisa dilihat oleh para undangan. Tapi, entahlah berhasil atau nggak.. (berhasil g??)
Kemudian, disepakatilah relawan-relawan yang berada di Padang, dan berkesempatan hadir, untuk datang ke lokasi sejak pagi. Tapi jadinya g pagi-pagi juga, janjinya jam 11. Pagi itu, menu apa yang akan dimasak juga belum diputuskan. Akhirnya pagi-pagi, sang relawan yang jadi PJ beranjak ke pasar pagi untuk berbelanja. Ia beli saja sesuka hatinya.. 3 ekor ayam, bumbu-bumbu dasar, sirup melon, nata de coco, dll..
Pulang ke rumah, ternyata relawan-relawan yang akan datang jam 11 masih belum berdatangan. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat. Katanya ada yang masih menunggu relawan-relawan lain, ada yang masih ada urusan di RS, ada yang ujian skills lab, ada yang kedatangan keluarganya...
Akhirnya relawan yang pertama datang adalah Silfia. Kami pun bersama-sama mencuci ayam. Kemudian disusul Bang Taufik. Bang Taufik lalu sibuk menghubungi yang lain. Tak lama, datanglah para relawan tersebut diangkut oleh puskel BSMI. Ada Bang Bubuy, Adri, Zakiy, Akhnal, dan Rizky, adeknya Bang Bubuy. Kemudian datang lagi Adik, lalu Benny.
Melihat bahan-bahan yang dibeli si PJ belum lengkap, para koki memutuskan akan berbelanja lagi. Namun, karena takut kulit mereka yang terawat dirusak sinar matahari, juga takut wewangian mereka menguap karena berbaur dengan warga pasar tradisional, plus takut merasakan dahaga ekstra karena kepanasan, mereka memutuskan untuk bebrbelanja di foodmart Basko.
Oia Bang Bubuy, ternyata setelah nsa tanya ke Mama, harga cabe saat itu memang sedang turun. Seperempat kg cuma 5 ribu. Jadi emng kemahalan belanja di foodmart, ya iya lah, kita kan mesti bayar pajak dan biaya AC nya. Yang Nsa jawab waktu itu harga cabe waktu Nsa masih di Bonjol,,hhe
Singkat kata, selesailah aneka masakan hingga maghrib menjelang.
Ada gulai ayam, bakwan ungu, cake kering dan cake basah, sambalado ala Akhnal, capcay yang juga didominasi ungu. Untuk lengkapnya tentang menu-menu tersebut, bisa dibaca disini
Alhamdulillah, lumayan banyak orang-orang yang datang... Para relawan bayak yang 'babaso' pas makan..Mungkin bisa jadi evaluasi bagi kita, supaya g prasmanan lagi, biar ga malu-malu lagi ambil makanannya...
BSMI, care for life
Monday, September 6, 2010
Masih Perlukah Wanita Belajar Memasak?

Sebuah pekerjaan rumah tangga yang kini mulai ditinggalkan wanita modern
Hasan mengernyitkan kening ketika menyantap nasi goreng buatan Rahmi, istri barunya. Di bibirnya tersungging sebuah senyum tipis, sementara Rahmi memandang suaminya penuh rasa cemas. Benar dugaannya, hingga kali ketiga ia memasakkan nasi goreng untuk suaminya ternyata belum juga bisa terasa pas di lidah. "Enak...," hibur suaminya sambil meneruskan, "Cuma terlalu asin." Rahmi tersenyum kecut menahan malu.
Setelah hampir sebulan lalu keduanya menikah, baru tak lebih dari dua pekan mereka menempati rumah kontrakannya. Sejak saat itu Rahmi memang harus memasak, mencuci, dan menyeterika sendiri. Pekerjaan-pekerjaan yang tak pernah ia sentuh ketika masih gadis. Ibunya tak pernah mengajarkan pekerjaan-pekerjaan semacam itu kepadanya, dan semasa kuliah pun habis waktunya untuk belajar melulu. Beruntung, Hasan termasuk suami yang mau mengerti latar belakang kehidupan istrinya, hingga selanjutnya justru Hasanlah yang mengajari Rahmi berbagai resep masakan.
Di era globalisasi ini, semakin banyak gadis yang senasib seperti Rahmi. Sekolah tinggi, pandai, mandiri, tetapi tak bisa memasak, tak suka mencuci ataupun menyapu halaman. Kamarnya penuh buku diktat berantakan, debu di rak buku dan jendela sudah berminggu-minggu belum dibersihkan, tetapi gadis penghuni kamar itu tetap asyik berkutat dengan buku-buku pelajaran dan komputernya. Jika dilihat dari kesibukan jadwal kuliah dan materi pelajaran yang ekstra berat, kita mungkin bisa memahami mengapa gadis-gadis pandai itu begitu giat belajar hingga melalaikan pekerjaan-pekerjaan teknis. Dianggapnya pekerjaan-pekerjan itu hanya membuang waktu, buang tenaga, tidak bermanfaat, dan terlalu remeh dibandingkan tugas belajar yang berat.
Benarkah pendapat itu? Tentu saja salah besar. Setiap pekerjaan, seremeh apapun, pasti ada manfaatnya. Khusus untuk pekerjaan-pekerjaan kecil dalam rumah tangga seperti ini, sebenarnya memiliki manfaat cukup besar pula bagi kaum hawa. Apa saja manfaatnya, akan kita bahas berikut ini.
Bukan Pekerjaan Remeh
Pekerjaan memasak, misalnya, akan menajamkan perasaan seseorang. Kepandaian merajang bawang merah dengan sama tipis, sama sekali bukan hal yang mudah. Memperkirakan minyak agar tidak terlalu panas sehingga kerupuk bisa mekar dengan baik sempurna, kuningnya pas, dan tidak terlalu coklat pun butuh kepekaan perasaan. Belum lagi persoalan penataan hidangan di meja makan, bagaimana bisa nampak lebih menarik untuk disantap, semuanya butuh kelembutan perasaan dan keterampilan motorik halus jari-jari tangan. Mencuci, sekilas nampak seperti pekerjaan kasar semata. Ternyata di sana tetap dibutuhkan juga latihan kesabaran. Kaos kaki dekil, hanya bisa dibersihkan dengan menguceknya kuat-kuat berkali-kali. Bagian dalam kerah baju dan saku, perlu gosokan pelan namun teliti karena debunya tersembunyi di bagian yang sulit dikucek. Belum lagi saat menjemurnya. Jika asal-asalan merentangkan jemuran, ketika kering baju menjadi kusut. Tetapi jika dijemur dengan rapi, hati-hati, diluruskan serat-serat kainnya, maka baju akan lebih terawat rapi, tak mudah kusut maupun molor. Begitu juga dengan meyeterika, membutuhkan latihan kesabaran yang tak ringan. Untuk bisa menyeterika kerah baju, bahu yang letaknya menyudut, lipatan-lipatan rok yang harus ditata satu demi satu, semuanya tak bisa dikerjakan dengan kasar dan sembarangan dan membutuhkan ketrampilan motorik halus jari-jari tangan pula.
Bagaimana dengan membersihkan kamar, menata buku, atau memasang vas bunga di meja, apakah semuanya pekerjaan remeh? Sama sekali tidak, karena semua ini akan mempertajam kepekaan para gadis terhadap kebersihan dan keindahan rumahnya kelak. Jika terbiasa dengan kamar seperti kapal pecah, lantas siapa yang nantinya berinisiatif memperindah rumahnya kelak? Padahal merawat bunga dalam pot bukan hal yang ringan. Membersihkan debu di sela-sela susunan buku, di sudut-sudut jendela pun butuh ketelatenan. Apakah harus suami yang mengerjakannya? Atau menggantungkan kepada pembantu? Ada pembantu pun tak akan berguna, jika majikannya tak peka terhadap kebersihan dan keindahan rumah.
Persiapkan Gadis-gadis Kita
Walaupun kita merasa sebagai orang modern, jangan sekali-sekali merasa tak perlu mengajarkan ketrampilan-ketrampilan rumah tangga kepada gadis-gadis kita. Apapun kesibukan mereka, latihlah gadis-gadis itu untuk bisa (walau tak harus pandai) memasak, menjahit, mencuci maupun menyeterika. Seperti yang sudah kita bahas, pekerjaan-pekerjaan tersebut turut berperan dalam membentuk karakter feminin dalam kepribadian mereka. Jika gadis-gadis trampil melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut, kepekaan perasaan bisa tetap terjaga, juga kepekaan terhadap kebersihan lingkungan dan tumbuhlah pula cita rasa keindahannya. Kelembutan tangan dan kelincahan motorik halus jari-jari tangan mereka pun tetap terjaga. Dan pada akhirnya, semua itu akan membantu menghaluskan kejiwaan mereka, menumbuhkan kesabaran dan ketelatenannya. Kepribadian yang halus dan lembut seperti ini akan menyeimbangkan kemandirian, kepandaian dan kemampuan rasio yang mereka dapatkan dari sekolah-sekolah formal yang ada.
Di jaman kehidupan Rasulullah, gadis-gadis telah mendapatkan pelajaran mengenai kehidupan berkeluarga sebelum mereka baligh. Sehingga ketika datang saat baligh, mereka telah dewasa dan siap untuk menjalani hidup pernikahan. Apakah terlalu muda? Tidak, karena kepribadian mereka telah cukup matang. Jauh berbeda dengan kepribadian gadis-gadis usia baligh sekarang, yang justru sedang berada dalam masa kritis sebagai remaja yang sedang mencari jati diri. Ini semua gara-gara para orang tua lalai untuk mendewasakan gadis-gadis mereka sebelum baligh. Karena keadaan memang sudah berbeda, kita pun tak bisa melawan arus dengan mudah. Anak-anak gadis kita tetap harus mengikuti pola perkembangan masyarakat kita, tetapi jangan sekali-sekali lupa untuk tidak memberikan kebutuhan pendidikan kepribadian yang paling mereka butuhkan untuk masa-masa berkeluarganya kelak. Bukankah suami akan lebih sayang jika istri yang memasakkan makanan untuknya?
“dan bekerjalah kamu, maka Allah dan RosulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu dan kamu akan dikembalikan kepada (ALlah) yang maha mengetahui yang ghoib dan yang nyata”
Thursday, September 2, 2010
Revolusi Hijab
12072010
Bus kota yang mengangkut kami dari kota Padang tadi berlalu meninggalkan kami di depan sebuah rumah yang terlihat sederhana namun asri. Aku tergopoh-gopoh membawa barang-barangku yang cukup banyak ke dalam rumah. Disana, kami disambut oleh keluarga penghuni rumah tersebut dengan ramah sekali. Namun, mungkin karena di antara kami berempat juga baru kenal, suasana memang sangat canggung.
Tak lama, mengingat senja semakin berlalu, dan kami belum shalat maghrib, kami pun meminta izin untuk shalat. Uni si pemilik rumah kemudian menunjukkan sebuah kamar tempat aku dan teman sekelompokku yang perempuan akan tempati.
Memasuki kamar, hmm...penerangan yang sangat tidak baik untuk kesehatan mata. Lantai beralaskan tikar plastik yang disambung-sambung. Dinding yang belum di cat.
Aku baru menyadari. Kami -anak KKN di jorongku ini- akan tinggal 1 rumah. Belum lagi laki-laki dewasa yang ada di rumah itu, ada 2 orang. Jilbab, sudah jelas.. tapi memakai kaus kaki sepanjang hari...?? belum kubayangkan sebelumnya.
Dimulailah saat selesai shalat maghrib hari itu.
*
*
Hari kedua KKN saja aku sudah dibuat kaget oleh banyak hal. Pagi itu teman-teman yang cowok mengajak jalan keliling jorong. Namun temanku yang cewek itu tidak memakai jilbab keluar rumah. Ia cuma memakai baju tidurnya. Ini fenomena baru bagiku...; ada anak kuliahan yang tidak memakai jilbab keluar rumah. Oke, aku sering mendengar beberapa orang yang tidak memakai jilbab jika berada dilingkungan rumahnya. Namun kalau disana, kan akan bertemu teman-teman kuliah yang lain, sama aja seperti di kampus. Jadi apa gunanya ia memakai jilbab ke kampus?
Kami berjalan kaki, menyapa setiap orang yang dijumpai. Kami sampai di jorong tetangga. Mampir ke rumah tempat anak KKN jorong tersebut tinggal. Keluarlah salah seorang anak KKN nya yang cewek. JUGA tidak memakai jilbab. Ckckckck...semakin heran aku...
Jujur, setidaknya, aku telah sedikit mewaspadai hal ini. Aku membawa banyak sekali kaus kaki.
dan ternyata, lantai dapurnya termasuk bukan tipe 'lantai kering', jadi agak lembap-lembap gitu.. Namun untungnya, aku juga membawa sandal kain yang buat di rumah. Jadi setiap ke dapur, aku memakainya.
Tapi, yang tetap sulit adalah membuka dan memakai kaus kaki setiap akan masuk dan keluar kamar mandi. Belum lagi jika sedang ada laki-laki di dapur, atau sedang menunggu antrian ke kamar mandi di depan pintu. Ditambah lagi, sebagian mereka tidak mengerti. Sering, setiap aku akan keluar kamar mandi,aku buka pintu sedikit untuk melihat keadaan di luar. Karena aku memakai kaus kakinya di luar kamar mandi, soalnya kalau di dalam kamar mandi jadi basah dong kaus kakinya... Lalu saat aku lihat keluar, ternyata ada laki-laki lagi nunggu di dekat sana, melihat aku membuka pintu. Kemudian aku masuk lagi dan tutup lagi pintunya, berharap dia mengerti dan agak menjauh dari sana. Tapi sewaktu aku buka pintu lagi, ternyata dia masih berdiri disana dan masih melihat ke kamar mandi....aduuhh..... Ini adalah salah satu hal yang membuatku ingin cepat-cepat menyelesaikan KKN.
Banyak juga pertanyaan yang hinggap. Suatu hari seorang adik berumur 5 tahun bertanya,
"Kakak kok pakai kaus kaki terus? dingin ya?"
aku jawab, "iya..."
dia bilang, "buka lah kaus kakinya Kak..." (sambil mengarahkan tangannya ke kakiku, ingin membuka kaus kakiku)
aku menghindar, "eh...jangan...Kakak suka pakai kaus kaki..."
Belum lagi dalam keseharian yang lain. Abang yang tinggal di rumah itu pernah bilang padaku, entah dia bercanda entah serius..
"Nissa bapaham-paham bana gaya Nissa beko awak karajoan Nissa ko. Anak KKN dulu ado nan bantuak Nissa pulo, bajilbab taruih. Awak suruak an jilbabnyo, manangih-nangihnyo."
Indonesian version: “Nissa kalau serius-serius kali nanti saya kerjain. Anak KKN yang dulu juga ada yang seperti Nissa, pakai jilbab terus. Saya sembunyikan jilbabnya, trus dia nangis-nangis”
Aku cuma ngucap mendengar itu..dan timbul ketakutan yang lumayan besar dalam hatiku. Mungkin Abang itu berbicara demikian karena aku tidak mau duduk-duduk di ruang tamu sama yang lain. Pemuda-pemuda jorong lumayan sering main ke rumah itu. Aku tidak mau ikut duduk disana buat ngobrol-ngobrol. Sedangkan temanku yang perempuan mau. Jadi kesannya aku tidak mau sosialisasi. Sejak itu aku agak mencairkan diri. Tetap memakai prinsip, “berbaur tapi tidak melebur”. Aku lebih memilih ini, sebelum ancaman tadi benar-benar diwujudkan.
Namun lama-kelamaan nada pertanyaan-pertanyaan mulai berubah. Seiring dengan ke-konsisten-an yang aku perlihatkan. Suatu hari Nenek di rumah itu pernah bertanya,
“Nissa pesantren dima dulu?”
Aku jawab, “ndak pesantren do Nek..”
Nenek: “apo dulu? MAN? Tsanawiyah?”
Aku jawab: “ndak pernah masuak sekolah agama do Nek..”
Tiba-tiba Uninya datang. “Nissa urang Padang Panjang Mak..urang sinan agamonyo kuek..”
Aku mesem-mesem aja..
Atau sewaktu mandi di sungai. Kami –aku, teman KKN ku yang cewek, beserta adek-adek cewek yang ada disana- pergi ke tempat yang sepi. Hanya sesekali ada orang yang lewat untuk menyeberangi sungai. Aku ikut mandi di sungai, namun tetap memakai jilbab dan memakai rok. Susah..sekali melawan arus karena memakai rok begitu. Namun ya bagaimana lagi..berenang adalah hobiku..makanya aku juga bercita-cita jadi orang kaya agar bisa bikin kolam renang sendiri,,,hhe.... (ngelantur dikit... J )
Sewaktu memakai sampo, aku pakai di dalam jilbab. Adek-adek itu cuma heran melihat tingkahku. Mungkin dalam pikiran mereka,,, “Kak Nissa ni kok begini kali ya...?”
Namun ternyata, lama-lama mereka turut menjaga aku. Pernah waktu itu aku mandi pakai lengan pendek, namun jilbab yang dalam sehingga tanganku bisa ditutupi. Sesaat aku lengah, ternyata ada orang yang lewat, laki-laki. Adek-adek itu langsung bilang “Kak, ada laki-laki Kak...!”
Juga saat akan berganti pakaian, mereka tiba-tiba sudah berdiri mengelilingiku dan membentangkan handuk-handuk mereka yang besar-besar sambung menyambung untuk menutupi aku. Jujur, aku terharu...
Hari kian berganti.. Aku dan adek-adek itu semakin dekat. Sering aku dengar terujar dari mereka begini “Thia nio bana pakai jilbab bantuak Kak Nissa..”
Suatu hari ia bertanya,
28082010
Thia (T) :”Kakak sejak kapan pakai jilbab Kak?”
Aku (A) : “sejak SMP dek...”
T : “langsung kayak gini Kak?”
A : “hmm...waktu SMP tu Kakak pakai jilbab ke sekolah. Terus keluar rumah juga pakai.. Tapi kalau ada tamu ke rumah, Kakak belum pakai... trus waktu SMA Kakak udah pakai jilbab terus kalau ada tamu laki-laki ke rumah. Manset juga udah. Tapi nggak pakai kaus kaki kalau di rumah walau ada non muhrim nya.. Waktu kuliah baru lengap..”
T : (kepada temannya) “tu kan...nggak langsung kayak gini...bisa berangsur-angsur...”
(kepadaku) “Thia mau pakai jilbab Kak, tapi orang sini suka meledek...”
A : “ngapain kata orang dipikirin...coba pikirin apa kata Tuhan...”
T : “tapi kami nggak punya banyak baju lengan panjang Kak...”
A : “pake aja jaket kalau keluar rumah..”
T : “tapi shalat aja kami belum penuh 5 waktu sehari Kak..”
A: “jadikan jilbab itu yang menjaga kita.. Kan malu kalau orang bilang ‘pakai jilbab tapi nggak shalat!’, akhirnya kita jadi shalat. Daripada dosanya double..udah nggak shalat, nggak pakai jilbab lagi..”
Banyak lagi yang jadi kendala bagi mereka..sebisa mungkin berusaha dipatahkan.
29082010
Semalam aku berbuka di Lb. Sikaping. Baru pulang sudah agak larut, hampir semua penghuni rumah sudah tidur. Saat sahur, aku dikejutkan oleh Thia yang sudah memakai jilbab. Senang sekali melihatnya.
Saat subuh, aku mendapat kabar buruk yang menuntut aku agar ke Padang.
Hari itu, aku belum tahu bahwa semua adek-adekku disana sudah memakai jilbab.
30082010
Aku kembali ke Bonjol sore hari. Aku disambut bidadari-bidadari cantik itu, yang sekarang sudah menutup auratnya. Senang..alhamdulillah.. Jujur, lebih membanggakan daripada berhasil melntik dokter-dokter kecil... J
31082010
Perpisahan tiba... mereka semua menangis.. dalam tangis itu, aku meminta mereka berjnji untuk tetap memakai jilbab selamanya. Mereka mengiyakan.. Ya Allah, jaga lah adik-adikku itu...berikanlah keistiqamahan bagi mereka untuk mempertahankan hijabnya. Buatlah mereka menjadi agen-agen baru untuk perubahan di daerah tersebut...ke arah yang lebih baik..



